Pages

Minggu, 20 Juni 2010

Minggu Pagi di Victoria Park


*RESENSI FILM
Mayang (Lola Amaria), matanya belo, bibir sedikit tebal, rambut pendek. Kulit hitam dan tubuh ramping. Meski terlihat manis, tapi itu tidak membuat Mayang percaya diri. Dia kalah pamor bila dibandingkan adiknya, Sekar (Titi Sjuman). Sekar memang jauh lebih menarik ketimbang Mayang. Wajahnya cekung, hidung pipih, kulit putih dan tubuh ramping. Sekar selalu lebih unggul dan berprestasi. Perbedaan itu membuat ayah mereka, Sukardi memberikan perlakuan berbeda pula pada keduanya. Diskriminasi tersebut telah banyak menimbulkan konflik antara Mayang dengan adik kandungnya sendiri. Namun ibu mereka, Lastri hadir sebagai penengah dan berusaha untuk bersikap adil.

Dua tahun sudah Sekar meninggalkan tanah airnya. Ia menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Hong Kong. Keberadaan Sekar di Hong Kong membuat Mayang semakin terpojok. Di kampung halaman, bermil-mil dari tempat Sekar berdiam, Mayang menjadi bulan-bulanan ayahnya. Dalam berbagai kesempatan Sukardi terus menyindir gadis hitam ini. Memang keluarganya sering mendapat kiriman barang-barang mewah dari Sekar. Kehidupan di Hong Kong telah merubah nasib Sekar. Ia intens memberi nafkah bagi keluarganya di Indonesia. Hal itu bertolak belakang dengan Mayang, yang hanya bekerja di ladang tebu. Menurut Sukardi, pekerjaan bekebun itu tidak pernah memberi hasil memuaskan. Hati Mayang bergolak, merasa terus diremehkan.

Setelah dua tahun berlalu tak pernah ada kabar lagi dari Sekar. Sukardi dan Lastri khawatir, kemudian menyuruh Mayang menyusul adiknya. Mayang harus menjadi TKW. Sesunguhnya ia memiliki cita-cita tinggi dan tidak mau menjadi babu, karena ia sering mendengar pengalaman pahit dialami TKW. Desakan orangtua membuat ia harus tetap berangkat ke Negeri orang, dengan segala keawaman dan ketidaktahuannya.

Mayang bekerja menjadi pembantu rumah tangga sekaligus pengasuh anak. Beruntung majikannya orang baik. Sambil bekerja perlahan ia mulai beradaptasi dan berkenalan dengan teman-teman sesama pembantu di Negeri Asia Timur tersebut, juga mencari adiknya. Warung budhe, tempat ini biasa digunakan para pekerja wanita melepas lapar dan dahaga atau sekedar bercakap-cakap. Dari situ Mayang mengenal Gandi (Donny Damara) melalui Sari (Imelda Soraya) yang berwatak genit dan suka dirayu, teman buruh yang baru dikenalnya. Gandi, pegawai Konsul Jenderal RI Hong Kong, wajahnya kotak, mata tajam. Kulit hitam dan tubuh ideal antara tinggi dengan berat badannya. Tidak terlalu gemuk tapi tidak terlalu kurus. Gandi sering disebut bapaknya anak-anak. Ia peduli dengan berbagai masalah dan selalu siap menampung keluh kesah yang menimpa pembantu.

Dari Warung Budhe, perjalanan Mayang berlanjut ke Victoria Park. Victoria Park menjadi sentra favorit bertemunya buruh Indonesia. Pada hari Minggu, setiap pagi, banyak orang Indonesia tumpah ruah di tempat ini. Terletak di pusat kota, ditumbuhi pohon rindang, serta gemercik air mancur membuat tempat ini terasa sejuk meski ada di tengah kota. Disitu Mayang berbaur dengan teman-teman buruh lain.

Nasib Sekar
Jalan tidak selalu mulus. Adagium ini berlaku bagi Sekar. Kehidupan di Hong Kong perlahan mulai menemui hambatan. Ia tidak tahu jika kakaknya sudah di Hong Kong. Sebelum kakaknya datang, masalah sudah lebih dulu hadir. Beban untuk terus menafkahi keluarga menyebabkan Sekar harus mencari pinjaman uang karena penghasilannya mulai surut.

Orang pertama yang didatangi Sekar untuk dimintai pertolongan adalah Gandi. Namun Gandi tidak bisa memenuhi permintaan Sekar. Peristiwa itu memicu konflik antara Gandi dengan Vincent (Donny Alamsyah). Vincent adalah sahabat karib Gandi, mata sipit, kulit putih. Pengusaha Indonesia keturunan Cina. Ia juga peduli dengan nasib buruh. Konflik dengan Gandi menyebabkan persahabatan mereka sedikit renggang. Vincent, beranggapan Gandi setengah hati melayani buruh dengan tidak mau memberi pinjaman pada Sekar.

Berawal dari peristiwa tersebut, Sekar menghilang. Gandi, Vincent dan teman-teman buruh tidak tahu keberadaannya. Pencarian Mayang terus berlangsung. Dengan dibantu Gandi dan Vincent serta teman-teman sesama TKW yang juga sedang mencari keberadaan Sekar, mereka berusaha menemukan adik Mayang.

Itu adalah cerita singkat dari Film Minggu Pagi di Victoria Park. Film ini disutradarai oleh Lola Amaria, sekaligus sebagai pemeran utama. Dibintangi pula oleh Titi Sjuman, Donny Damara, Donny Alamsyah dan Imelda Soraya. Serta didukung oleh Fitri Sugab, Bob Singh, Aline Jusria, dan Permatasari Harahap. Mengambil lokasi di Hong Kong, dengan latar kehidupan Tenaga Kerja Wanita.

Bermula dari persaingan antara Mayang dengan Sekar, kita akan dibawa menuju konflik lebih kalut lagi. Sekar harus merelakan tubuhnya dijual, ia melacur di Wan cai kawasan yang terkenal dengan kehidupan malamnya. Perjuangan untuk setidaknya dapat bertahan hidup di Hong Kong dan melunasi hutangnya dengan melacur membuat ia frustasi setengah mati. Jalan pintas bunuh diri coba ia tempuh. Tapi terlambat, Mayang, Gandi, dan Vincent bergegas memergokinya. Terjadi cek cok antara Mayang dengan Sekar. Kulminasi perang batin kakak adik sampai pada titik akhir. Perseteruan selama bertahun-tahun mereka idap, seolah menjadi bom waktu dan harus meledak menghancurkan ego masing-masing. Lola Amaria dan Titi Sjuman membawakannya dengan baik dan penuh penghayatan. Adegan ini mampu memicu emosi penonton untuk ikut merasakan konflik didalamnya.

Seperti kebanyakan film drama, terasa hambar jika tanpa afeksi. Titien Wattimena, penulis skenario, juga mengkomposisikan dengan bumbu cinta sesama manusia. Kasih Sayang keluarga, antara Mayang dengan adiknya maupun dengan anak majikannya, filantropi Gandi dengan para TKW, empati yang begitu besar sesama rekan TKW, hingga kisah cinta Vincent yang diam-diam menyimpan perasaan pada Mayang, serta cerita cinta antara Sari dengan Amar (Bob Singh) yang playboy asal pakistan berwajah arab dan matre. Selain itu juga dihiasi kisah tragis, Menuk (Permatasari Harahap) dengan Agus (Fitri Sugab). Mereka adalah pasangan transgender, lesbi.

Dipilihnya Hong Kong sebagai lokasi, menghadirkan suasana lain. Beberapa scene coba menampilkan partikularitas negara itu. Pelabuhan Causeway Bay, panorama indah akan tampak dengan kelap-kelip lampu gedung pencakar langit HSBC (The Hong Kong Shanghai Bank Corporatiaon) dan Gedung Bursa Efek Hong Kong menjadi suguhan cantik pada malam hari. Victoria Park, semacam Indonesia kecil di Hong Kong juga memiliki keistimewaan tersendiri. Para TKW memanfaatkannya untuk berkumpul. Biasanya setiap pagi, di hari Minggu. Karakter manusia Hong Kong yang sering lalu lalang di trotoar dengan langkah kaki cepat sehingga terlihat berlari menjadikan alur cerita tambah menarik. Pelibatan aktor-aktor dari Hong Kong, membuat film ini semakin berwarna.

Secara garis besar, film produksi Pick-Lock production ini berkisah tentang kehidupan pembantu di luar negeri dengan segala permasalahannya yang rumit. Film ini akan membuka mata penonton, betapa hidup di luar negeri sebagai babu tidaklah mudah. Ada hal yang selama ini tidak diketahui, segala perjuangan ditempuh untuk menghidupi diri dan keluarga di Indonesia, meski menggunakan cara yang salah. Pemerintah dan kita diminta untuk tidak menutup sebelah mata dengan keadaan buruh di Negeri orang.

Meski bersifat campaign, namun film yang juga melibatkan Noey Letto sebagai produser ini tidak secara komprehensif menampilkan kekerasan dialami TKW oleh majikannya, yang ada majikan baik hati. Walaupun hal itu tidak merusak rule film, alangkah lebih baik jika ada penyeimbang didalamnya sehingga pesan yang diusung tersampaikan. Sutradara juga cukup jeli melihat seluk beluk kehidupan buruh, dengan menghadirkan Kangen Band di penghujung film. Kangen Band adalah band kontroversial asal Indonesia yang lagu-lagunya banyak digemari para TKW. Minggu Pagi di Victoria Park menjadi tontonan alternatif di tengah maraknya film Indonesia berbau seks dan horor. Sayang untuk dilewatkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar