Rabu, 25 April 2012
Kata Pertama
HEY KATA PERTAMA, di mana kau berada? Sudah berkelana aku kemana-mana tapi tak juga berjumpa. Hey kata pertama, kau harus tahu, sudah berhari-hari aku berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya hanya untuk menemukanmu tapi tak kunjung kau menampakkan muka. Tidak adakah itikad baik darimu? Maka kali ini aku mohon, berikanlah aku pencerah supaya berpikirku menjadi mudah. Aku lelah, jangan kau bikin aku terus susah lalu menyerah.
Senin, 03 Oktober 2011
Oktober Melankoli
OKTOBER DATANG membawa kegetiran. Ia aku jumpai di tengah jalan yang sudah sepi pada dini hari, sekira pukul dua belas lewat lima belas. Saat berpapasan mukanya tertunduk lesu dan tatapan matanya terus melihat ke bawah tidak mau mendongak ke depan. Jalannya lunglai semacam orang putus asa gara-gara putus cinta. Aku menyapanya tapi hanya hening yang aku dapat. Oktober acuh seakan tidak pernah ada suara yang terdengar memanggilnya. Aku rasa ia memang sedang patah hati.
Beberapa hari sebelum malam ini, Oktober bercerita bahwa ia hendak mengungkapkan cinta pada seorang gadis istimewa. Namun agak takut, karena Oktober tahu, ia tidak sendiri dalam upaya merebut hati si gadis istimewa tersebut. Dan yang lebih miris lagi pesaingnya adalah pria yang rutin berinteraksi dengan si gadis. Yang barangkali di mata si gadis, pria itu memiliki nilai seratus. Sedangkan Oktober... jangankan nilai seratus, bahkan nilai nol saja tidak bisa ia dapat. Jelas ini bukan kesan yang baik.
Beberapa hari sebelum malam ini, Oktober bercerita bahwa ia hendak mengungkapkan cinta pada seorang gadis istimewa. Namun agak takut, karena Oktober tahu, ia tidak sendiri dalam upaya merebut hati si gadis istimewa tersebut. Dan yang lebih miris lagi pesaingnya adalah pria yang rutin berinteraksi dengan si gadis. Yang barangkali di mata si gadis, pria itu memiliki nilai seratus. Sedangkan Oktober... jangankan nilai seratus, bahkan nilai nol saja tidak bisa ia dapat. Jelas ini bukan kesan yang baik.
Kamis, 22 September 2011
Dari Balik Jendela

WAKTU MENUNJUKAN tepat pukul 08.00 pagi saat alarm ponsel di atas meja berdering untuk ke… entahlah. Karena setiap ia berdering, tindakan pertama dan aku lakukan berulang-ulang ialah mengambil ponsel, memicingkan mata sambil mengamati layarnya dan dengan cermat aku pencet tombol stop. Maka alarm pun berhenti merengeh sementara aku masih terbuai dalam alam imajiku.
Perlu kau ketahui kawan bahwasanya bangun tidur pukul 08.00 bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Bahkan ia menjadi hal paling menggemaskan dan sekarang sedang coba aku singkirkan. Sebab dengan bangun kesiangan, kau telah memotong beberapa jam hak hidupmu sendiri. Otomatis kau kehilangan sejumlah momen penting. Padahal beberapa jam yang kau pangkas itu bisa jadi adalah waktu-waktu berharga.
Kamis, 25 Agustus 2011
Karena Subuh
KARENA SUBUH adalah pergantian. Transisi dari gelap menuju terang. Memulai sekaligus berniat mengakhiri. Didahului pada subuh, diajarkan cara menanam kebaikan membuang kefasikan.
Karena subuh adalah nyaman. Dengan pikiran lowong. Plong-menyegarkan. Ia waktu yang tenang buat mencari wawasan, kemudian merekamnya sebagai bekal untuk hidup pada siang yang bimbang.
Siang adalah kerendahan hati. Belajar berlaku tawaduk walau tinggi sudah ilmu dipunya. Tetap merunduk meski sedang berada di tempat atas. Menghormati tanpa merendahkan. Berempati dengan ketulusan. Berjalan di atas jembatan kesabaran.
Karena subuh adalah nyaman. Dengan pikiran lowong. Plong-menyegarkan. Ia waktu yang tenang buat mencari wawasan, kemudian merekamnya sebagai bekal untuk hidup pada siang yang bimbang.
Siang adalah kerendahan hati. Belajar berlaku tawaduk walau tinggi sudah ilmu dipunya. Tetap merunduk meski sedang berada di tempat atas. Menghormati tanpa merendahkan. Berempati dengan ketulusan. Berjalan di atas jembatan kesabaran.
Langganan:
Postingan (Atom)