Indonesia sederhana. Tapi senyatanya terlalu sederhana jika mendeskripsikan negeri ini hanya lewat satu-dua-tiga kata. Perlu banyak kata untuk menjelaskan. Butuh bermacam perspektif untuk menerjemahkan. Dan Ahmad Yunus, -bersama Farid Gaban- lewat buku ini menyajikan realitas Indonesia dalam aneka cerita, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.
Narasi Yunus amat memesona. Benar-benar hidup. Membikin setiap orang yang membacanya serasa diseret untuk ikut ke dalam petualangan ajaib dua orang 'nggak waras' ini. Sungguh pengalaman yang menggiurkan. Yunus tampaknya berhasil menciptakan keinginan pada diri pembacanya untuk singgah di sudut-sudut nan elok Indonesia dan -tentu saja- sudut Indonesia yang penuh ironi: perompak berseragam, gelimangan kekayaan alam yang salah urus sehingga tak mengubah kemiskinan rakyat jadi kesejahteraan, kerusakan lingkungan, moda transportasi bahari yang mengenaskan, pembangunan terpusat di Jawa dan melupakan pedalaman hingga kegelisahan masyarakat di Perbatasan akan kesahihan NKRI. Ya, Indonesia seksi tapi hanya jadi halusinasi bagi sebagian mereka yang tinggal di gugusan pulau. Mereka yang jauh dari kehidupan Jawa. Jauh dari hiruk pikuk Jakarta.
Makna terpenting dari buku ini adalah membangunkan keinsafan bahwa Indonesia bukanlah rumah ternyaman bagi sementara orang. Oleh karenanya, ibarat bangunan rumah, ada beberapa bagian dari rumah Indonesia yang bobrok yang perlu dibenahi dan diberesi. Tidak menunggu nanti-nanti. Segera.
Selasa, 19 Maret 2013
Rabu, 30 Januari 2013
Mencari Titik Temu
AKU PUNYA EGO. Kamu punya ego. Setiap
manusia punya sisi egoistis. Bukan untuk dipertentangkan. Bukan pula untuk dipertengkarkan. Tapi
untuk didialogkan. Lapang dada bersedia untuk melebur keakuan. Dengan kepala
dingin dan lunak hati. Supaya diperoleh titik temu. Bijaksana untuk kamu. Bijaksana
untuk aku. Bijaksana untuk bersama.
Senin, 28 Januari 2013
Caping Pemberian Nik
Setelah menyeruput kopi
bikinannya, Janu mengetik Yahoo ID dan password. Tak-tik-tak-tik suara tuts keyboard terdengar berdetik.
Janu memasukkan Yahoo ID: doktor belalang. Password: bla-bla-bla. Klik sign in dan, si bulat kuning –icon YM–
yang tertidur pulas kini terbangun dan tertawa riang. Senyumnya lebar merekah. Barangkali
dia baru saja mimpi bertemu artis idolanya.
Senin, 14 Januari 2013
Tintin Dan Seorang Ibu Pedagang Pasar
JARUM JAM DI DINDING telah menunjukan pukul satu pagi. Senin dini
hari. Janu belum tidur. Ia masih menonton Alvin and the chipmunks di depan layar
laptopnya. Namun tampaknya film itu
belum membuat kejenuhan Janu malam itu hilang. Maka dia putuskan memutar satu
film lagi. Dibukanya folder berlabel film,
digerakkan cursor mouse naik-turun
mengikuti kehendaknya, menelusur satu-per-satu deretan berkas yang tertata rapi
dengan cover film berwarna-warni dan klik, Janu pilih satu judul: The Adventures of Tintin.
Bagi Janu, Tintin
adalah film yang sudah lama ingin ia tonton sejak dirilis dan tayang di bioskop Indonesia 2011 yang lalu. Meski film sudah diputar di gedung pertunjukan tapi Janu sama
sekali tak sempat mendatanginya ketika itu. Ya, konon kesibukan jadi faktor
utama. Namun Janu dapat berlega hati karena, beberapa bulan silam dia telah dapatkan
file film yang disutradarai Steven Spielberg itu dari seorang kawannya. Riang
bukan kepalang.
Film yang telah
’mendekam’ lama di dalam ’kurungan’ laptop Janu itu, akhirnya ’menghirup udara
bebas’ kemarin malam saat Janu menontonnya dalam durasi kurang lebih satu
setengah jam.
Langganan:
Postingan (Atom)

