JANUARI BERKORESPONDENSI dengan Tuhannya, di bawah langit temaram, sepertiga malam. Hatinya tengah risau, pikirannya sedang kacau. Sebabnya? Hanya Januari yang boleh tahu. Yang pasti ia memohon kepada Tuhannya, agar semesta mengirimkan pertanda. Lalu?
"Entahlah," begitu kata Januari kepadaku.
"Aku berupaya menerjemahmen saja hal-hal yang tidak terjamah. Dimulai dari sebentuk rupa yang bersarang di ceruk bunga tidur dua hari beberturut-turut. Lantas keesokkan harinya ada kontak tak terduga bak seorang perempuan sedu sedan berkeluh kesah dengan kekasih yang sudah begitu dipercaya. Dan puncaknya adalah kemarin, kausa yang selama ini bikin centang perenang dipastikan telah hilang beterbangan," ujar Janu panjang lebar.
Seluruhnya berlangsung belakangan ini, sejak Januari memanjatkan doa tujuh hari lalu.
"Kau tahu maksud dari itu semua?" tanyaku.
"Hanya Allah yang tahu," Januari memungkasi dialog dini hari ini.
Senin, 05 Februari 2018
Minggu, 19 Januari 2014
Pak Rho
“Sebenarnya kami
tidak butuh bantuan-bantuan semacam ini. Yang kami perlu, cukuplah kami bisa
kembali diterima oleh masyarakat.”
LEBIH KURANG BEGITU
reaksi seorang tua, 73 tahun, bernama Pak Rho, atas rencana bantuan pemeriksaan
kesehatan yang ditawarkan dua lembaga negara di republik ini. Untuk orang
seumurannya badan Pak Rho masih tampak tegap-segar meski rambutnya sudah
beruban, mukanya kisut dan bintil-bintil hitam tumbuh di separoh pipinya. Pak Rho
adalah salah satu dari lima orang bekas tahanan politik 1965 yang kemarin sore
saya jumpai di sebuah kantor hukum di Yogya.
Tampang Pak Rho
dingin dan serius tatkala mendengarkan uraian rencana bantuan kesehatan fisik/psikis
itu. Kendati terlihat kurang antusias, Pak Rho tetap menyimak penjelasan seorang
delegasi lembaga negara. Namun di balik wajah keriputnya, saya merasa semacam terdapat
sesuatu sedang ia sembunyikan. Sesuatu yang bikin hatinya gundah gulana
sehingga dia terlihat tegang.
Terlepas ada
kemungkinan ekspresi tegang itu memang sudah bawaan lahir, tapi saya menengarai
ketegangan yang muncul dari muka Pak Rho lantaran ketidaksetujuannya dengan
konsep bantuan pemeriksaan kesehatan ini. Bisa dinilai dari pendapat-pendapat
yang ia utarakan dan saya dapat memafhumi. Pasalnya, syarat-syarat yang musti
dipenuhi dalam program ini amat banyak dan terkesan rumit. Semisal diperlukan
Surat Pembebasan Dari Tahanan. Dokumen ini diterbitkan antara tahun 1970-1980-an.
Tidak semua eks tapol masih memiliki. Belum lagi dibutuhkan pula pernyataan
bermaterai dari dua orang saksi yang mengetahui bahwa Pak Rho beserta kolega
pernah ditahan. Mungkin dalam hati Pak Rho bergumam, ini syarat merepotkan betul! Kenapa malah korban yang diminta aktif
mengurus tetekbengek itu? Seharusnya negara yang giat memperbaiki namanya, juga
nama rekan-rekan sejawatnya sesama korban 65.
Untuk kali ini saya
sepakat dengan pemikiran Pak Rho. Kalau negara bertekad bulat dan serius untuk
memberi pertolongan maka korban tidak perlu dibuat kewalahan mengurus ini-itu.
Toh senyatanya bantuan-bantuan sejenis ini tidak terlalu diharapkan. Yang
sangat dinanti-nanti hingga kini ialah, negara mau akui kesalahan masa lalu, menyingkap
tabir kebenaran dan meminta maaf. Menukil Yap Thiam Hien, kasus Tapol
G-30-S adalah pelanggaran HAM yang paling keji yang pernah dilakukan Indonesia
terhadap bangsanya sendiri. Mungkin sepanjang sejarah Indonesia.
Sabtu, 20 Juli 2013
Pada Suatu Waktu Di Tempat Yang Eksotis
Buat Nik
Nik, tampaknya kau perlu seduh secangkir kopi susu sebelum baca tulisan ini.
Jika sudah, kau pilihlah tempat paling tenang. Pasang posisi sesantai mungkin dengan bersandar di kursi, berbaring di
kasur atau boleh juga menggelesot di atas lantai. Senyaman kamu. Dengarkan
musik yang merdu supaya menimbulkan suasana syahdu. Nikmatilah barisan
kata-kata yang nanti akan melantun sembari menyeruput hangatnya kopi susu.
Tulisan ini aku karang lantaran tempo hari kau mengeluh sedang dilanda
kebosanan. Bahkan si bosan
kelihatannya sudah memuncak. Iya tidak?
Selasa, 19 Maret 2013
Menginsafi Indonesia
Indonesia sederhana. Tapi senyatanya terlalu sederhana jika mendeskripsikan negeri ini hanya lewat satu-dua-tiga kata. Perlu banyak kata untuk menjelaskan. Butuh bermacam perspektif untuk menerjemahkan. Dan Ahmad Yunus, -bersama Farid Gaban- lewat buku ini menyajikan realitas Indonesia dalam aneka cerita, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.
Narasi Yunus amat memesona. Benar-benar hidup. Membikin setiap orang yang membacanya serasa diseret untuk ikut ke dalam petualangan ajaib dua orang 'nggak waras' ini. Sungguh pengalaman yang menggiurkan. Yunus tampaknya berhasil menciptakan keinginan pada diri pembacanya untuk singgah di sudut-sudut nan elok Indonesia dan -tentu saja- sudut Indonesia yang penuh ironi: perompak berseragam, gelimangan kekayaan alam yang salah urus sehingga tak mengubah kemiskinan rakyat jadi kesejahteraan, kerusakan lingkungan, moda transportasi bahari yang mengenaskan, pembangunan terpusat di Jawa dan melupakan pedalaman hingga kegelisahan masyarakat di Perbatasan akan kesahihan NKRI. Ya, Indonesia seksi tapi hanya jadi halusinasi bagi sebagian mereka yang tinggal di gugusan pulau. Mereka yang jauh dari kehidupan Jawa. Jauh dari hiruk pikuk Jakarta.
Makna terpenting dari buku ini adalah membangunkan keinsafan bahwa Indonesia bukanlah rumah ternyaman bagi sementara orang. Oleh karenanya, ibarat bangunan rumah, ada beberapa bagian dari rumah Indonesia yang bobrok yang perlu dibenahi dan diberesi. Tidak menunggu nanti-nanti. Segera.
Narasi Yunus amat memesona. Benar-benar hidup. Membikin setiap orang yang membacanya serasa diseret untuk ikut ke dalam petualangan ajaib dua orang 'nggak waras' ini. Sungguh pengalaman yang menggiurkan. Yunus tampaknya berhasil menciptakan keinginan pada diri pembacanya untuk singgah di sudut-sudut nan elok Indonesia dan -tentu saja- sudut Indonesia yang penuh ironi: perompak berseragam, gelimangan kekayaan alam yang salah urus sehingga tak mengubah kemiskinan rakyat jadi kesejahteraan, kerusakan lingkungan, moda transportasi bahari yang mengenaskan, pembangunan terpusat di Jawa dan melupakan pedalaman hingga kegelisahan masyarakat di Perbatasan akan kesahihan NKRI. Ya, Indonesia seksi tapi hanya jadi halusinasi bagi sebagian mereka yang tinggal di gugusan pulau. Mereka yang jauh dari kehidupan Jawa. Jauh dari hiruk pikuk Jakarta.
Makna terpenting dari buku ini adalah membangunkan keinsafan bahwa Indonesia bukanlah rumah ternyaman bagi sementara orang. Oleh karenanya, ibarat bangunan rumah, ada beberapa bagian dari rumah Indonesia yang bobrok yang perlu dibenahi dan diberesi. Tidak menunggu nanti-nanti. Segera.
Langganan:
Postingan (Atom)

