Pages

Minggu, 20 Juni 2010

Minggu Pagi di Victoria Park


*RESENSI FILM
Mayang (Lola Amaria), matanya belo, bibir sedikit tebal, rambut pendek. Kulit hitam dan tubuh ramping. Meski terlihat manis, tapi itu tidak membuat Mayang percaya diri. Dia kalah pamor bila dibandingkan adiknya, Sekar (Titi Sjuman). Sekar memang jauh lebih menarik ketimbang Mayang. Wajahnya cekung, hidung pipih, kulit putih dan tubuh ramping. Sekar selalu lebih unggul dan berprestasi. Perbedaan itu membuat ayah mereka, Sukardi memberikan perlakuan berbeda pula pada keduanya. Diskriminasi tersebut telah banyak menimbulkan konflik antara Mayang dengan adik kandungnya sendiri. Namun ibu mereka, Lastri hadir sebagai penengah dan berusaha untuk bersikap adil.

Dua tahun sudah Sekar meninggalkan tanah airnya. Ia menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Hong Kong. Keberadaan Sekar di Hong Kong membuat Mayang semakin terpojok. Di kampung halaman, bermil-mil dari tempat Sekar berdiam, Mayang menjadi bulan-bulanan ayahnya. Dalam berbagai kesempatan Sukardi terus menyindir gadis hitam ini. Memang keluarganya sering mendapat kiriman barang-barang mewah dari Sekar. Kehidupan di Hong Kong telah merubah nasib Sekar. Ia intens memberi nafkah bagi keluarganya di Indonesia. Hal itu bertolak belakang dengan Mayang, yang hanya bekerja di ladang tebu. Menurut Sukardi, pekerjaan bekebun itu tidak pernah memberi hasil memuaskan. Hati Mayang bergolak, merasa terus diremehkan.

Setelah dua tahun berlalu tak pernah ada kabar lagi dari Sekar. Sukardi dan Lastri khawatir, kemudian menyuruh Mayang menyusul adiknya. Mayang harus menjadi TKW. Sesunguhnya ia memiliki cita-cita tinggi dan tidak mau menjadi babu, karena ia sering mendengar pengalaman pahit dialami TKW. Desakan orangtua membuat ia harus tetap berangkat ke Negeri orang, dengan segala keawaman dan ketidaktahuannya.

Mayang bekerja menjadi pembantu rumah tangga sekaligus pengasuh anak. Beruntung majikannya orang baik. Sambil bekerja perlahan ia mulai beradaptasi dan berkenalan dengan teman-teman sesama pembantu di Negeri Asia Timur tersebut, juga mencari adiknya. Warung budhe, tempat ini biasa digunakan para pekerja wanita melepas lapar dan dahaga atau sekedar bercakap-cakap. Dari situ Mayang mengenal Gandi (Donny Damara) melalui Sari (Imelda Soraya) yang berwatak genit dan suka dirayu, teman buruh yang baru dikenalnya. Gandi, pegawai Konsul Jenderal RI Hong Kong, wajahnya kotak, mata tajam. Kulit hitam dan tubuh ideal antara tinggi dengan berat badannya. Tidak terlalu gemuk tapi tidak terlalu kurus. Gandi sering disebut bapaknya anak-anak. Ia peduli dengan berbagai masalah dan selalu siap menampung keluh kesah yang menimpa pembantu.

Dari Warung Budhe, perjalanan Mayang berlanjut ke Victoria Park. Victoria Park menjadi sentra favorit bertemunya buruh Indonesia. Pada hari Minggu, setiap pagi, banyak orang Indonesia tumpah ruah di tempat ini. Terletak di pusat kota, ditumbuhi pohon rindang, serta gemercik air mancur membuat tempat ini terasa sejuk meski ada di tengah kota. Disitu Mayang berbaur dengan teman-teman buruh lain.

Nasib Sekar
Jalan tidak selalu mulus. Adagium ini berlaku bagi Sekar. Kehidupan di Hong Kong perlahan mulai menemui hambatan. Ia tidak tahu jika kakaknya sudah di Hong Kong. Sebelum kakaknya datang, masalah sudah lebih dulu hadir. Beban untuk terus menafkahi keluarga menyebabkan Sekar harus mencari pinjaman uang karena penghasilannya mulai surut.

Orang pertama yang didatangi Sekar untuk dimintai pertolongan adalah Gandi. Namun Gandi tidak bisa memenuhi permintaan Sekar. Peristiwa itu memicu konflik antara Gandi dengan Vincent (Donny Alamsyah). Vincent adalah sahabat karib Gandi, mata sipit, kulit putih. Pengusaha Indonesia keturunan Cina. Ia juga peduli dengan nasib buruh. Konflik dengan Gandi menyebabkan persahabatan mereka sedikit renggang. Vincent, beranggapan Gandi setengah hati melayani buruh dengan tidak mau memberi pinjaman pada Sekar.

Berawal dari peristiwa tersebut, Sekar menghilang. Gandi, Vincent dan teman-teman buruh tidak tahu keberadaannya. Pencarian Mayang terus berlangsung. Dengan dibantu Gandi dan Vincent serta teman-teman sesama TKW yang juga sedang mencari keberadaan Sekar, mereka berusaha menemukan adik Mayang.

Itu adalah cerita singkat dari Film Minggu Pagi di Victoria Park. Film ini disutradarai oleh Lola Amaria, sekaligus sebagai pemeran utama. Dibintangi pula oleh Titi Sjuman, Donny Damara, Donny Alamsyah dan Imelda Soraya. Serta didukung oleh Fitri Sugab, Bob Singh, Aline Jusria, dan Permatasari Harahap. Mengambil lokasi di Hong Kong, dengan latar kehidupan Tenaga Kerja Wanita.

Bermula dari persaingan antara Mayang dengan Sekar, kita akan dibawa menuju konflik lebih kalut lagi. Sekar harus merelakan tubuhnya dijual, ia melacur di Wan cai kawasan yang terkenal dengan kehidupan malamnya. Perjuangan untuk setidaknya dapat bertahan hidup di Hong Kong dan melunasi hutangnya dengan melacur membuat ia frustasi setengah mati. Jalan pintas bunuh diri coba ia tempuh. Tapi terlambat, Mayang, Gandi, dan Vincent bergegas memergokinya. Terjadi cek cok antara Mayang dengan Sekar. Kulminasi perang batin kakak adik sampai pada titik akhir. Perseteruan selama bertahun-tahun mereka idap, seolah menjadi bom waktu dan harus meledak menghancurkan ego masing-masing. Lola Amaria dan Titi Sjuman membawakannya dengan baik dan penuh penghayatan. Adegan ini mampu memicu emosi penonton untuk ikut merasakan konflik didalamnya.

Seperti kebanyakan film drama, terasa hambar jika tanpa afeksi. Titien Wattimena, penulis skenario, juga mengkomposisikan dengan bumbu cinta sesama manusia. Kasih Sayang keluarga, antara Mayang dengan adiknya maupun dengan anak majikannya, filantropi Gandi dengan para TKW, empati yang begitu besar sesama rekan TKW, hingga kisah cinta Vincent yang diam-diam menyimpan perasaan pada Mayang, serta cerita cinta antara Sari dengan Amar (Bob Singh) yang playboy asal pakistan berwajah arab dan matre. Selain itu juga dihiasi kisah tragis, Menuk (Permatasari Harahap) dengan Agus (Fitri Sugab). Mereka adalah pasangan transgender, lesbi.

Dipilihnya Hong Kong sebagai lokasi, menghadirkan suasana lain. Beberapa scene coba menampilkan partikularitas negara itu. Pelabuhan Causeway Bay, panorama indah akan tampak dengan kelap-kelip lampu gedung pencakar langit HSBC (The Hong Kong Shanghai Bank Corporatiaon) dan Gedung Bursa Efek Hong Kong menjadi suguhan cantik pada malam hari. Victoria Park, semacam Indonesia kecil di Hong Kong juga memiliki keistimewaan tersendiri. Para TKW memanfaatkannya untuk berkumpul. Biasanya setiap pagi, di hari Minggu. Karakter manusia Hong Kong yang sering lalu lalang di trotoar dengan langkah kaki cepat sehingga terlihat berlari menjadikan alur cerita tambah menarik. Pelibatan aktor-aktor dari Hong Kong, membuat film ini semakin berwarna.

Secara garis besar, film produksi Pick-Lock production ini berkisah tentang kehidupan pembantu di luar negeri dengan segala permasalahannya yang rumit. Film ini akan membuka mata penonton, betapa hidup di luar negeri sebagai babu tidaklah mudah. Ada hal yang selama ini tidak diketahui, segala perjuangan ditempuh untuk menghidupi diri dan keluarga di Indonesia, meski menggunakan cara yang salah. Pemerintah dan kita diminta untuk tidak menutup sebelah mata dengan keadaan buruh di Negeri orang.

Meski bersifat campaign, namun film yang juga melibatkan Noey Letto sebagai produser ini tidak secara komprehensif menampilkan kekerasan dialami TKW oleh majikannya, yang ada majikan baik hati. Walaupun hal itu tidak merusak rule film, alangkah lebih baik jika ada penyeimbang didalamnya sehingga pesan yang diusung tersampaikan. Sutradara juga cukup jeli melihat seluk beluk kehidupan buruh, dengan menghadirkan Kangen Band di penghujung film. Kangen Band adalah band kontroversial asal Indonesia yang lagu-lagunya banyak digemari para TKW. Minggu Pagi di Victoria Park menjadi tontonan alternatif di tengah maraknya film Indonesia berbau seks dan horor. Sayang untuk dilewatkan.

Selasa, 08 Juni 2010

Ini Sebuah Kehormatan


New York Herald Tribune, November 1963

Jimmy Breslin

CLIFTON POLLARD yakin hari Minggu itu ia akan bekerja. Jam 9 pagi ia sudah bangun. Di apartemennya, berisi tiga kamar, di Corcoran Street, ia telah siap mengenakan pakaian terusan warna khaki lalu menuju dapur untuk sarapan. Istrinya, Hettie, sudah menyiapkan daging panggang dan telur. Pollard sedang makan ketika ada panggilan telepon berdering, yang memang sudah ia tunggu itu. Itu telepon dari Mazo Kawalchik, mandor para penggali kubur di Arlington National Cemetery, tempat Pollard bekerja mencari nafkah. ”Polly, tolong jam sebelas nanti sudah ada disini, bisa ya?” kata Kawalchik, menyuruh. ”Saya kira kau tahu kenapa,” katanya melanjutkan. Ya, Pollard memang sudah tahu. Ia meletakkan gagang telepon, menyudahi sarapan lalu meninggalkan apartemennya. Hari Minggu itu ia lewatkan dengan menggali liang lahat untuk John Fitzgerald Kennedy.

Sewaktu Pollard tiba lalu berjalan ke gudang kayu bercat kuning, tempat perkakas pemakaman disimpan, Kawalchik dan John Metzler sudah menunggunya. ”Maaf, kau jadi harus kerja hari Minggu,” ujar Metzler. ”Ah, tidak usah ngomong begitu,” kata Pollard. ”Bagi saya, berada di sini adalah kehormatan.” Pollard lalu menuju ke sebuah mesin pembajak berlawanan arah. Di pemakaman itu, lubang kubur tidak digali pakai sekop. Mesin bajak terbalik yang dipakai berwarna hijau, sementara mangkuk besar yang menggali tanah itu bergerak ke arah orang yang mengendalikan mesin, tidak menjauh seperti kren. Di bawah bukit di depan ”Makam Serdadu tak Dikenal”, Pollard mulai menggali. (Catatan Editor: Serdadu itu bernama Custis-Lee Mansion).

Dedaunan menutupi rumput. Ketika gigi-gigi bajak menggaruk tanah, dedaunan itu mengeluarkan suara rumput tertebas, berbunyi ”kres-kres-kres,” yang terdengar dari atas motor penggerak mesin bajak. Ketika mangkuk pertama menyembul dengan seonggok tanah, Metzler, pengawas pemakaman itu, mendekat dan menatapnya. ”Tanahnya bagus,” kata Metzler. Pollard menyambut, ”Saya mau menyimpannya sedikit.” ”Mesin ini meninggalkan jejak di rumput, nanti saya isi tanah dan menanaminya dengan rumput subur yang tumbuh di sekitar sini, saya mau semuanya di sini—kau tahu—indah.”

James Winners, penggali kubur lain, mengangguk. Katanya, ia juga akan mengangkut beberapa gerobak tanah yang sangat subur itu ke gudang untuk ditanami rumput. ”Ia orang yang baik,” ujar Pollard. ”Ya, memang,” kata Metzler, menyahut. ”Sekarang ia akan datang ke sini dan berbaring di liang lahat yang saya gali,” sambung Pollard. ”Kau tahu, ini benar-benar sebuah kehormatan buat saya, mengerjakan semua ini.”

Pollard, 42 tahun. Ia orang yang ramping dan berkumis, lahir di Pittsburgh dan pernah ikut sebagai sukarelawan pada Batalyon Engineers ke-352 yang bertugas di Burma ketika Perang Dunia II berkecamuk. Saat ini ia bekerja sebagai operator peralatan. Gajinya tingkat 10, artinya per jam ia menerima bayaran US$3.01. Nah, orang terakhir yang melayani John Fitzgerald Kennedy, Presiden ke-35 negaranya sendiri, adalah seorang pekerja yang mendapat gaji US$3.01 per jam dan ia masih bisa berkata menggali kubur bagi sang mendiang presiden adalah sebuah kehormatan.

Pagi kemarin, pukul 11.15, Jacqualine Kennedy berjalan menuju makam itu. Ia keluar di bawah naungan portiko Gedung Putih, perlahan mengiringi jenazah suaminya yang diusung di dalam keranda berkudung bendera. Keranda itu juga dibebat dengan dua sabuk kulit hitam, yang diikat ketat pada kereta berporos kuningan mengkilap.

Jacqualine melangkah lurus dan wajahnya menengadah. Ia menuruni jalan berbatu biru dan berselimut hitam dan menembus bayangan cabang-cabang tujuh pohon oak yang kala itu seluruh daunnya luruh. Ia berjalan perlahan, melintasi prajurit angkatan laut yang memegang tegak bendera negara. Ia mengayun kaki melintasi orang-orang yang berdiri rapat sambil menutup mulut dan tegang melihat ke arahnya. Lalu saat iring-iringan itu terlihat, mereka menundukkan kepala dan mengayunkan tangan mengusap mata. Ia melangkah ke gerbang barat daya tepat di tengah Pennsylvania Avenue. Ia berjalan dengan langkah yang rapat dan wajahnya menengadah tegak. Di jalanan Washington, ia mengiringi jenazah suaminya yang terbunuh.

Semua orang menyaksikannya ketika ia melangkah. Ia kini ibu dari dua anak yatim. Dan ia melangkah ke dalam sejarah negeri Amerika karena ia telah menunjukkan kepada semua orang—yang merasa tua dan tak tertolong dan tanpa harapan—bahwa ia punya kekuatan yang juga sangat diperlukan oleh semua orang. Walaupun ada yang telah membunuh suaminya dan darahnya menetes pada pangkuannya ketika sang suami menjemput maut, ia masih mampu berjalan tegar ke pemakaman dan dengan begitu ia telah menolong kita semua.

Massa berkerumun lalu prosesi itu sampailah juga di Arlington. Ketika ia tiba di pemakaman itu, keranda sudah diletakkan, di antara rel kuningan dan siap diturunkan ke liang lahat. Ini pasti saat yang paling menyedihkan: seorang wanita menyaksikan keranda sang suami ditimbun di dalam tanah. Ia tahu, sang suami akan selamanya berada di sana. Sekarang, tak ada apa-apa lagi. Tak ada keranda untuk dicium atau bahkan dipegang. Tak ada tempat berpegangan. Tapi ia melangkah ke tempat penguburan itu dan berdiri di depan enam baris kursi bersarung hijau dan ia mulai duduk. Tapi serta merta ia berdiri lagi karena ia tahu tidak harus duduk sampai inspektur pemakaman memberi tahu di mana ia harus duduk.

Seremoni pemakaman itu pun dimulai. Pesawat jet meraung di langit, tepat di atas kepala, dan dedaunan jatuh dari langit. Di bukit ini, di sisi keranda, hadirin pun membahanakan doa. Ada juru kamera, penulis, prajurit, dan Agen Rahasia—mereka juga ikut berdoa tak kalah nyaringnya tapi seperti ada yang tersendat. Di depan makam itu Lyndon Johnson mengarahkan wajahnya ke kanan. Ia sekarang Presiden dan ia harus tetap tenang. Ia tak ingin melihat ke keranda dan liang lahat terlalu kerap untuk sang mendiang John Fitzgerald Kennedy. Lalu, pemakaman itu pun usai. Limusin hitam melaju di bawah pepohonan taman pemakaman itu dan keluar ke bulevar menuju ke Gedung Putih. ”Jam berapa sekarang?” pria yang berdiri di atas bukit itu bertanya. Ia melihat jam tangannya. ”Jam 3 lewat 30 menit,” ujarnya.

Clifton Pollard tidak hadir saat pemakaman itu. Ia berada jauh di balik bukit itu, menggali kubur lain dengan bayaran $3.01 per jam. Ia tidak tahu untuk siapa lagi liang lahat yang ia gali itu. Ia hanya menggali lalu menimbunnya lagi. ”Mereka pernah ada dan berguna,” katanya. ”Kita hanya tak tahu kapan. Tadi, aku mau melihat ke sana,” ujarnya. ”Tapi terlalu banyak orang, kata tentara tadi, saya tidak boleh mendekat. Jadi, ya saya tetap di sini dan menggali. Tapi nanti saya akan ke sana sebentar. Cuma melihat sebentar, ya kan? Seperti kata saya padamu tadi, ini sebuah kehormatan.” []

* Diterjemahkan dari “It’s an Honour” by Jimmy Breslin.
Blog Breslin in Newsday: http://www.newsday.com/news/columnists/ny-jimmybreslin,0,4860342.columnist

Sabtu, 29 Mei 2010

Kesibukan Dua Tempat


*oleh-oleh dari Kaliurang. Dalam rangka Pelatihan Feature LPM Keadilan FH UII, 27-30 Mei 2010 di Wisma Putra Jaya.
Matahari sudah sedikit berbagi kehangatan, namun udara pagi terlampau dingin untuk bisa merasakannya. Seorang ibu tua berkacamata, pakaian motif batik dipadu rok ungu sepanjang 5 cm di bawah lutut tampak berseliweran sibuk menyiapkan kebutuhan untuk dua penyewa wisma. Dia penjaga wisma disini, Wisma Putra Jaya Kaliurang. Ada dua rumah disatu areal wisma ini, satu rumah (saya menyebutnya bergaya setengah klasik), warna gading, sudah sejak dua hari lalu ditempati. Sedangkan satu rumah yang lain bercat merah, kuning kalem, dan ungu sepertinya baru tengah malam tadi berpenghuni. Anak-anak bermain ayunan dan jungkat jungkit di depan rumah itu, ceria.
Segelas teh hangat menemani saya menulis, di teras rumah klasik. Alunan lagu Laskar Pelangi membuat suasana bertambah nyaman pagi ini. Dari tempat saya duduk, dua perempuan, berjilbab hijau costa dan hitam sedang sibuk berbincang di tangga taman sebelah selatan, berlumut dan masih basah karna hujan semalam. Saya tak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi mereka tak sadar jika ada sepasang kupu-kupu mendengarkan pembicaraan mereka.
Di tempat lain, anak-anak masih bermain jungkat-jungkit, "cepet medon!!" teriak anak kecil disitu. Ia ingin mengakhiri permainannya. Sudah capek atau ketakutan mungkin. Temannya bermain agak ngawur. Seorang ibu menyuapi anaknya. Sementara keluarga yang lain ada di pendopo sederhana, dikelilingi pepohonan cukup rindang, beraksitektur khas jawa, dengan 16 pilar penyangganya "jamur yang ada disop itu lho," ujar salah satu dari mereka. Sedang bercakap-cakap tentang makanan nampaknya. Selang beberapa menit kemudian makanan datang.
Musik berganti dari Laskar Pelangi ke Two Step Behind-nya Deff Lepaard, setelah melalui beberapa track dulu tentunya. Kesibukan berbeda terjadi di ruang utama rumah klasik. Sebagian tekun membuat tugas deskripsi, termasuk saya, sisanya melahap makanan dan masih tidur. Soto adalah menu pagi ini. Perpaduan kuah, bawang goreng, toge, kobis, sawi, bihun dan daging ayam tak segera membuat orang-orang yang tidur dan menulis segera menyantapnya. Mungkin karena aromanya telah hilang. Sudah sejak tadi soto itu tersaji di atas meja makan. Semut hitam mulai tergiur dan mengganyang jatah manusia.
Asap rokok perlahan memenuhi tempat ini. Untungya pintu dan jendela terbuka lebar, korden warna orange, bertekstur imajiner juga telah disibakkan sedikit menyegarkan hawa pegunungan di sini, karpet warna hijau daun menambah kesejukan. Kesibukan masih sama, hanya tak ada yang makan kali ini. Beberapa orang telah selesai menulis deskripsi, ”Zi,buat folder deskripisi simpen disitu,” perintah Ikhwan, instruktur acara. Satu orang lagi, Andi terlihat pesimis, ”wes rasah dipikirin, mosok pimred kalah karo Kuncoro, kui barang redpel,” ujarnya ketus.
Sementara pendopo sepi. Meninggalkan sepasang wanita dan pria. Si wanita menyapu lantai yang berserakan sisa-sisa makanan, sang pria mengangkut gelas. Anak-anak berhenti bermain ayunan dan jungkat jungkit. Si anak yang disuapi Ibunya juga sudah kenyang, begitupun orang-orang di tempat itu tadi. Tak ada lagi keramaian di pendopo, sudah masuk ke dalam rumah atau ada juga yang keluar dengan aktifitasnya masing-masing. Kesibukan kini terpusat di Rumah bergaya klasik, di ruang utama. Menyelesaikan deskripsi sesegera mungkin menjadi tujuan hidup kami hari ini, ”maksimal pukul setengah dua belas harus sudah dikumpul,” intsruksi Ikhwan.

Senin, 10 Mei 2010

Retrospeksi Chocomelt


*Belajar menulis prosa

Secangkir teh dan sepiring popcorn menemani kami bercengkerama, di ruang pelit cahaya dan orang sekeliling sibuk dengan aktifitasnya masing-masing, didepan layar laptop, dengan jarinya bermain pada tuts keyboard dan kami pun seperti itu, sementara yang lain ada juga yang sedang memadu kasih. Namun satu hal yang membuat saya sedikit lega malam ini, tampaknya kawan saya sudah mampu melupakan masalahnya, harapannya begitu karna dua jam sebelum kami sampai disini, dia bercerita tentang kisah dramatisnya pada seorang wanita yang dianggap telah mampu memutarbalikan logika dan hatinya dengan berbagai kelebihan serta kekurangan.
Celoteh
Bagi dia hari ini tentu tak seindah dulu. Tepatnya dua bulan lalu, saya bersamamu merayakan ulangtahun perempuan penyuka chocomelt. Hal yang lazim bagi tiap lelaki untuk memperlakukannya lebih dari hari biasa, dihari jadinya. walau mungkin dia tidak pernah meminta apalagi mengharapkan. Namun Chocomelt tetap mengantarkan kepergianmu juga, dan tentu saya yang menemanimu ke suatu tempat, dimana saya atau kamu tak pernah tau dimana. Menyerah, kata itu seolah tak terbesit dalam gigihnya semangatmu, terus menyerang hingga 'musuh' tertangkap. Memang perjuanganmu akhirnya membawa hasil, kami menemukan dimana persembunyian 'musuh'. Saya dan Kamu bertemu dengannya, dan ternyata juga dengannya, kelak setelah kamu kemudian hari. Chocomelt itu sampai juga ke orang yang berhak menerima, dengan kondisi sudah cair, tidak jua mencairkan suasana kala itu. Terhenyak dan terlampau dingin untuk sembari berceloteh sekenanya. Pun begitu chocomelt itu telah ditangan perempuanmu kawan, misimu berhasil!! dan setelah perjalanan panjang ini, apa yang kamu inginkan, jika pada akhirnya chocomelt itu akan membentuk filosinya sendiri, sesuai jalan cerita yang kamu alami hari itu dan beberapa hari dengan kondisi menyesakkan.
Ekspektasi
Mencair dalam perjalanan memperjuangkan ekspektasimu, dan meski kini harus benar-benar mencair ku kira tak ada yang sia-sia. Seperti yang kamu ceritakan kala melintas di jalan tadi, ada nilai yang bisa kamu dapat. Pengalaman dan dewasa, pengalaman telah mendewasakanmu, mungkin begitu tepatnya, dan itu pelajaran. Bukan berarti kamu gagal, namun itu bekal. Sebuah pretensi yang tak pernah kamu harap ada tapi itu bermanfaat. Ada suatu adagium, masa lalu akan selalu ada dihalaman terdepan sebuah buku. Kamu tak akan pernah lupa dan akan selalu melihatnya setiap kamu akan membuka buku itu. Satu hal yang bisa kamu catat adalah, masa lalu itu juga sebuah rencana, rencana untuk masa depan. Jadi biarkan kisahmu itu menjadi sampul, biarkan saja chocomelt itu mencair, sementara kamu harus tetap melangkah, menggoreskan tinta dengan segala ekspektasi barumu dan bukan terus menangisi hal yang justru membuatmu semakin terperosok. Chocomelt tidak bisa mengalahkanmu, apalagi mengungkungmu. Chocomelt hanya artifisial belaka, dia mencair, itu menunjukan dia tidak bisa mempertahankan bentuk aslinya. Asumsikan sendiri apa itu..