Pages

Tampilkan postingan dengan label Sastrawi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastrawi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Agustus 2011

Apa Mau Dikata


BOLEH DIBILANG AKU tidak bertindak apa-apa bila tak patut disebut terlambat. Sebab dengan mengajukan banyak alasan pun, cukup sulit mengatakan ini sebuah keterlambatan. Karena aku tidak pernah berpindah tempat, apalagi berbuat, tidak ada waktu yang bergerak, jadi akan lebih cocok jika kata yang disematkan adalah pasif. Walau aku tidak akan pernah bangga dengan label tersebut.

Ikhtisar kepasifan muncul akibat situasi faktual yang serba problematis bagiku. Sedangkan bagi beberapa kolega, keadaan ditafsirkan: semakin lama berdiam diri, semakin besar peluang untuk kehilangan. Atau dalam bahasa tragisnya, diambil orang.

Selasa, 19 Juli 2011

Pagi Diakhir Juni


SELAMAT DATANG pagi diakhir Juni. Tahu tidak, kau tiba terlampau cepat, sampai-sampai belum sempat aku tertidur. Tidak juga aku bermalas-malasan di atas kasur, bergumul dengan bantal-guling kemudian bangun untuk menyambutmu seperti pagi biasanya. Menyibakkan tirai, melihat keluar di sela-sela teralis besi berdebu, aku menengok lewat jendela. Ternyata gelap telah jadi terang. Sudah pukul 5.30. Masih tetap terjaga.

Pagi diakhir Juni. Dimulai kesiangan, pukul 12. Untuk beberapa menit ke depan, pun aku belum sepenuhnya memulai. Belum juga beranjak dari amben. Gara-garanya imajiku masih berseliweran, bergelayutan di antara kehidupan nyata dan lamunan. Sepuluh menit.

Senin, 16 Mei 2011

Realisme Sinema Cinta

SUDAH KETIGA kalinya ––kalau tidak salah ingat, aku menonton lagi film 500 Day Of Summer secara utuh. Film ini dulu aku temukan di komputer LPM Keadilan pada awal 2010, dan saat itu pula untuk pertama kalinya aku setel. Berulang-ulang memutarnya tak sedikitpun ada kejenuhan. Boleh jadi hal tersebut lantaran aku merasakan bahwa ceritanya sedikit banyak bertalian dengan, aku. Khususnya menyangkut soal wanita, intuisi dan cinta, lebih-lebih cinta tanpa penyelesaian.

Sebetulnya aku canggung, bisa juga efek sampingnya bikin bingung, ketika diminta membahas urusan cinta ––sangat ditekankan pada cinta sepasang kekasih. Bagaimana tidak, diantara kawan sekomplotan dalam Grup Menulis Kabita, tampaknya aku adalah jawara untuk predikat jomblo paling lama. Bayangkan saja hampir lima tahun sendiri. Apa enggak kebangetan! Syukur deh kalau ada yang mendekati rekor itu.

Sabtu, 02 April 2011

Layang-layang Mimpi


BARANGKALI KALAU sore tadi tidak berangkat ke kampus, aku akan terus berkutat pada kerumitan pemilihan sudut pandang, lebih-lebih penentuan titik masuk untuk membawa ke babak demi babak tulisan keduaku ini. Tulisan untuk disertakan dalam kompetisi menulis kecil-kecilan seperti yang pernah aku ceritakan tempo lalu.

Makanya lantaran sebab rumit itu, aku jadi terlambat memposting naskah ini di catatan Facebook sesuai kesepakatan awal bersama kawan sekomplotan. Padahal aku sendiri yang gembar-gembor soal deadline supaya dikumpul tepat waktu. Maafkanlah kawan!

Sabtu, 26 Maret 2011

Menulis Itu Perlu


TERUS TERANG aku sebenarnya sama sekali tidak punya gambaran, menyangkut apa yang mesti aku tulis kali ini. Aku bingung, ide pun enggan berkunjung. Namun, sudah terlanjur disepakati bersama beberapa kolega, bahwasanya kami akan melakukan sebuah kompetisi menulis kecil-kecilan, tanpa piala, tanpa hadiah duit pembinaan. Tidak bergengsi, tapi dengan mimpi tinggi, kelak barangkali gagasan ini akan menjadi tonggak dimulainya budaya menulis. Kami coba mendahului, semoga dapat melecut motivasi.

Godean, Senin, 21 Maret 2011. Tempat itu tidak punya halaman luas untuk berlari-larian. Biar sempit pekarangannya, ia berdiri megah. Ditopang empat pilar, dihiasi ukir-ukiran Jawa plituran nan indah menawan lengkap dengan dua payung antik. Kursi tamunya pengkuh terbuat dari kayu jati, diterangi cahaya temaram lampu gantung, suasananya tenang. Pendopo tersebut nyaman digunakan ngobrol ngalor-ngidul semalaman.

Sabtu, 08 Januari 2011

Almanak Pak Tua


Penulisan ini aku mulai, sebagai permulaan awal tahun. Sebenarnya aku gagap apa yang mesti dicatat. Sebagian kalimat aku salin di Kantor LPM Keadilan, dua hari silam 5 Januari 2011. Suasana sangat hening kala itu. Hanya ada bunyi desis CPU komputer dan suara televisi dari pos satpam depan. Aku sempatkan bikin catatan sambil menunggu seorang teman yang tak kunjung datang.

Sekarang sudah hari ke delapan di Januari. Masih ada 352 hari lagi untuk mengakhiri tahun ini.
Heraclitus pernah bilang, ”segala sesuatu dalam keadaan bergerak dan tidak ada sesuatu yang diam.”

Sabtu, 25 Desember 2010

Kritikus


Hei Kata!! Sudah dua minggu ini aku tinggalkan pergulatan denganmu. Sedih rasanya kehilangan sosok inventif dalam diri. Bertarung akal saja aku mati, apalagi menyajikanmu ke dalam bahasa. Ya, aku seolah tak punya kekuatan melawan kelumpuhan ini, menentang kemandulan untuk menulis.

Sekarang aku akan coba memulai. Wujud antagonisme pada kemandulan. Permulaan tanpa kerangka, pendahuluan tanpa tujuan. Aku bikin bebas, leluasa tiada ikatan. Biarlah dinilai berantakan oleh siapa saja. Kritikus punya hak buat berkomentar, toh itu memang kerjanya.

Minggu, 05 Desember 2010

Si Kecil dan Serdadu Kebasahan


Di kelebatan hujan, dari arah utara Jalan Mataram muncul sebuah truk tertuliskan Yonif 407/PK. Segerombolan serdadu berseragam hijau lumut terlihat kebasahan di atas bak truk tanpa terpal itu. Lampu lalu lintas di perempatan Hotel Melia Purosani menyala merah, saat mereka saling berdempetan satu sama lain dan tertawa terbahak-bahak. Suaranya teramat kencang sampai menarik perhatian orang yang melintas maupun sedang berteduh di pinggir jalan. Tapi hanya satu orang saja yang tidak menoleh.

Si kecil bertelanjang dada dengan riangnya bermain air di ujung gang sempit tepi jalan besar. Hujan masih sangat deras, rambut cepak anak itu berair, bagian depannya menempel dikening, mengalir membasahi muka, sampai bersimbah di badannya. Cukup mengenakan celana pendek berwarna biru tanpa busana untuk tetap membuatnya terus larut dalam becek. Seakan tak bergeming dengan suasana sekitar, yang mungkin saja terus memperhatikan polahnya.

Rabu, 01 Desember 2010

Tangisan Binto


Syahdan, pada siang cerah setelah solat jumat. Anak kecil itu mengenakan kaos garis-garis hitam putih, bercelana kolor merah jingga. Binto, begitu dia biasa disapa, umurnya sekitar lima tahun. Wajahnya bulat, rambutnya tipis dan berkulit hitam. Sambil jongkok menyandar tembok sisi samping rolling dor, membelakangi sebuah pot ditanami kaktus milik Pak Haji, Binto menangis sejadinya.

Terisak-isak Binto bercerita, kalau baru saja ia tersinggung dengan ucapan salah seorang teman, yang jua merupakan buliknya. Si Bulik berkata tidak mau bercengkerama dengan Binto. "Bulik Asih nakal, Bulik tidak mau main lagi sama aku," ucap Binto polos, suaranya putus-putus, derai air mata bercucuran.

Senin, 27 September 2010

Gadis Hidung Mancung


Gadis itu berjilbab ungu. Tidak sepenuhnya tertutup, rambutnya tampak masih sedikit menyembul keluar. Ia berkemeja putih garis-garis dan celana jeans ketat. Aku sedikit kurang padu dengan penampilannya. Tapi tak apalah, ini soal selera. Mungkin dia sedang berhasrat dengan sandang macam itu. Aku tidak akan bahas masalah selera, toh nanti bisa berubah.

Saat ini kau jadi pemenang, juara satu gadis muda jelita di kampungku. Aku kira orang lain akan sekata dengan pendapat ini. Secara lahiriah sepatutnya mereka, atau paling tidak sejumlah orang punya kesan sama denganku dalam menilaimu.

Sabtu, 18 September 2010

Tabik Untuk Nama

Nama, aku ingin bilang, kalau potongan huruf yang akan mengeja namamu telah aku susun dan menjadi satuan kata utuh, tertulislah namamu. Aku titipkan pada seorang teman kemarin, melalui pesan pendek berisi tabik dariku. Seluruhnya tercatat singkat seperti ini, ”sampaikan salam untuk Nama, bila ia datang nanti.” Maaf bila lancang tanpa konsesi. Awalnya sungguh kulakukan sekedar gurau belaka.

Namun kian lama, aku terpikirkan juga, teringat persuaan cepat dulu kala. Canggung tanganku mewakili mulutku berbahasa, tapi mesti aku beri tahu juga. Aku berpretensi kau menjawab, meski dengan syarat tentunya, tabik sampai padamu. Entah sudah kau dengar sendiri atau tidak dari temanku itu.

”Bila sudah, aku menunggu balasmu Nama. Jika tidak, biarlah aku menanti dan kau tak perlu tahu, atau kau mau tak peduli, tak apalah, itu hakmu.” Sebatas premis saja, beribu lelaki menganggumimu. Bahkan barangkali bagi mereka, dapat memiliki adalah suatu kemuliaan, begitu pun aku. Memang namamu terlalu indah untuk disendirikan. Bahwasannya telah kau tetapkan pilihan, semoga manusia baik yang akan mendampingimu. ”Beruntunglah lelaki itu kelak, andai dapat menyanding namamu, Nama.”

Jumat, 10 September 2010

Bocah Pemungut Koran

Ini sudah Idul Fitri ketiga aku datang ke kota J. Tak perlu aku bilang namanya. Tiap hari raya tiba, biasanya aku turun gunung mencari nafkah disana. Sendirian dengan mengendarai bus. Simbah aku tinggalkan sejenak di kediamannya. Aku jadi pemungut koran. Peruntunganku bergantung pada jumlah jamaah solat Ied yang membawa surat kabar sebagai alas sajadahnya. Makin banyak, kemungkinan mengeruk rupiah kian besar. Meski aku juga harus berebut dengan pengumpul koran lain.

Namaku Slamet Legiman. Sepintas terdengar seperti nama orang Jawa kuno. Cerita simbahku, aku lahir tidak menangis. Orang sekelilingku belingsatan kala itu, telah mati pula diriku yang masih orok bau darah ini. Baru beberapa menit kemudian isakanku untuk pertama pecah. Karena lolos dari maut, ibu menyematkan nama Slamet. Legiman pemberian simbah, diambil hari pasaran Jawa waktu kemunculanku, Kamis Legi, sepuluh tahun lalu, pada 1998 tepatnya.

Kamis, 09 September 2010

Wanita Perantauan

Seorang perempuan dari tempat jauh, terpisah pulau, mengirim pesan pendek tadi sekitar pukul tujuh malam lebih sedikit. Sepulang tarawih baru saya baca. Singkat ia menyatakan rasa rindu sangat mendalam pada saya, lelaki yang sudah dikenalnya sejak masih bocah. Telah lama tak berjumpa, sekarang ia ada di daerah rantau. Sesaat suasana berubah pilu, mendengar kabarnya dalam pengelanaan. Di ceritakan ia sedang dalam kondisi tak sehat, diare serta mulut terus mengeluarkan makanan yang belum sepenuhnya tercerna dalam perut, muntah-muntah hingga dehidrasi tingkat tinggi. Satu hari sempat menginap dirumah sakit, baru sore tadi keluar. Memang tak sanggup lama-lama, karena tak banyak uang di saku untuk biaya berobat. Takut timbul khawatir, sakit itu ia sembunyikan. Orang rumah tak dapat berita.

Sementara ini harus sendirian dulu ia di tempat tinggal, tanpa teman melawan sakit yang belum sembuh benar. Kawan satu atapnya sedang keluar, walau nanti kembali, ia tetap mengeluh kesepian. Mungkin watak perempuan, perasaannya mudah labil. Hanya sungguh miris mendengar kondisinya. Lemari apalagi televisi tak ada. Kamar kostnya berluas sekitar 5x4 meter, diisi dua orang. Satu ranjang skala sedang dipakai tidur berdua. Untuk menyimpan cadangan makanan digunakan tupperware berdimensi lumayan besar. Terdapat karpet biru, dua koper dan beberapa kardus untuk wadah pakaian. Sebagian barang-barang diamankan dalam kardus.

Rabu, 07 Juli 2010

35 Menit

Separuh intensi saya mulai membuahkan hasil. Melewatkan Sabtu malam di warung mie Jawa, sebelah kampus tua, di kota yang hampir mati karena manusia mulai terlelap. Ada dua meja panjang, warna taplak putih dilapisi plastik, terlihat lusuh tapi bersih. Sementara si penjual, seorang bapak setengah baya sibuk memasak pesanan digerobaknya yang penuh cantelan daging ayam dan beberapa sayuran. Dengan tungku, dan arang sebagai bahan bakar, kipas angin dibiarkan berputar agar api tetap merah. Kalau tidak salah ingat, saat itu tak ada pembeli selain saya dan sang perempuan. Duduk berdua berhadapan, masih kaku. Sebelumnya memang jarang berpautan sedekat itu.

Dua piring nasi goreng, satu gelas es teh dan segelas teh hangat, serta sebungkus kerupuk, melanjutkan pembicaraan yang sudah dimulai. Diiringi alunan cerita kehidupan masa lalu, sekarang dan depan. Berlayar menaiki perahu kertas, menguntit radar Neptunus. Buaian prosa Filosofi Kopi hingga tawaran bibliografi novel homo. Dari perspektif saya, waktu berlalu begitu utuh, menyisihkan bosan, menyenangkan, kerasan, berkesan, tak berharap ada ujung.

35 menit berselang. Persuaan usai. Perempuan harus kembali ke sangkar. Sekitar 35 menit saja. Sesudah itu, tiada yang tahu jawabannya, akan mengorbit kemana. 35 menit menyisakan tanda tanya dan utopia. Namun 35 menit, tetap meninggalkan makna. Saya lebih peduli pada wacana. Meski saya dianggap seorang utopis, tapi setidaknya saya punya mimpi. Tugas selanjutnya adalah mengejawantahkan mimpi itu.
*27 Februari 2010

Kamis, 01 Juli 2010

Obituari Untuk Artha

Mendadak terhenyak, mendengar kabar kecelakaan tentang dirimu. Mencari tahu, semoga tetap dalam kondisi baik. Namun tak kunjung saya dapat kabar itu. Selang 60 menit, satu pesan singkat tanpa nama masuk ke ponsel saya. "Artha meninggal ya Yog," tertulis pendek.

Dia, Artha Kurnianto, 22 tahun, Orang Klaten. Wajahnnya kotak, rambut cepak, meski dulu sempat direbonding. Rahang kukuh, tubuh gemuk, dada tegap, membusung. Logat medok kentara ditiap tutur katanya. Pertama mengenal, ketika kami satu kelas, disemester pertama kuliah. Awalnya tak begitu dekat, tapi masa menyuruh untuk berteman karib. Bukan keterpaksaan.

Polah, celetuk dan ejekanmu urung dilupakan. Saya sempat jadi mangsa. "Kowe ra jipok skripsi semester wingi jare meh magang. Weelaa, jebul kowe rasido magang tho. Lha ngopo ra jipok wingi wae nek ngono," candanya ketus, sambil tertawa tanpa maksud menghina. Segelintir, ya itu hanya segilintir saja impresi tentang kamu. Ada banyak dan biarlah terekam di memori saya.

Setelah itu, cukup lama kita tak berjumpa. Terakhir bersua, kamu sudah sarjana. Mengeluh, melamar kemana-mana tak jua dapat kerja. Hingga saya dapat berita, kamu telah tiada. Kecelakaan meregang nyawa. Kamu mati muda, usiamu pendek. Sependek pesan singkat yang mengabarkan kematianmu.

Sekarang, sudah kamu dapatkan pencaharianmu, kekal, bekerja untuk dan di surga. Hampir 4.5 tahun mengenalmu, sosok yang menyenangkan. Selamat tinggal kawan, doa saya, dan kami semua menyertai. Semoga lapang jalanmu ke alam baka.

Senin, 28 Juni 2010

Cerita Perempuan

Menemukan kutipan, pada sebuah lektur. "Seperti sebuah buku, masa lalu adalah halaman terdepan dari masa kini dan rencana untuk masa depan." Ada benarnya. Saya telah membuka halaman terdepan itu, mencoba berkontemplasi, mencari dan menghapus coretan salah dimasa lalu. Masa lalu tak pernah benar-benar berlalu, ia bisa hadir kapan saja memainkan perannya sebagai guru atau menggoreskan kesalahan lagi dimasa kini.

Malaikat, afinitas itu sering saya umbar, ketika saya terjaga dalam lamunan.
Hiperbolik memang, tapi itu jujur dan setelah ini kita akan melalui jalan kata dramatis. Bagi seorang pecundang, ia perempuan telampau sempurna. Pecundang karena kesalahan besar, tak terampuni dan sekarang coba memperbaiki.

Otak ini bekerja lebih keras dari biasanya, begitu tertera di novel 5 cm. Berpikir arah tepat yang harus ditempuh. Empat penjuru mata angin berkecamuk, menyombongkan jalan paling benar. Melawan takut melilit kaki, melangkah maju, hingga saya berhasil menemukan haluan yang mesti saya tuju.

Kisah lalu berulang lagi. Berawal ketika langit mempertemukan dua manusia, saya dan sang perempuan. Telah lama dipisahkan waktu, meski tak pernah ada ikrar menyatukan sebelumnya. Berproses tanpa diatur, tiada yang mengatur, saya percaya hanya Tuhan. Pintu terburai, ruang hati memuai. Selama ini jauh dari pikiran ruang itu berpenghuni, tiba-tiba khayalan saya, ia akan kekal disana.

Perlahan mulai membangun tekstur perasaan yang dulu pernah memancang. Lewat sebuah buku dan alat pengirim pesan, sebagai pondasi awal. Menciptakan berbagai resolusi, memimpikan tentang intensi dimasa depan.
*27 Februari 2010

Senin, 10 Mei 2010

Retrospeksi Chocomelt


*Belajar menulis prosa

Secangkir teh dan sepiring popcorn menemani kami bercengkerama, di ruang pelit cahaya dan orang sekeliling sibuk dengan aktifitasnya masing-masing, didepan layar laptop, dengan jarinya bermain pada tuts keyboard dan kami pun seperti itu, sementara yang lain ada juga yang sedang memadu kasih. Namun satu hal yang membuat saya sedikit lega malam ini, tampaknya kawan saya sudah mampu melupakan masalahnya, harapannya begitu karna dua jam sebelum kami sampai disini, dia bercerita tentang kisah dramatisnya pada seorang wanita yang dianggap telah mampu memutarbalikan logika dan hatinya dengan berbagai kelebihan serta kekurangan.
Celoteh
Bagi dia hari ini tentu tak seindah dulu. Tepatnya dua bulan lalu, saya bersamamu merayakan ulangtahun perempuan penyuka chocomelt. Hal yang lazim bagi tiap lelaki untuk memperlakukannya lebih dari hari biasa, dihari jadinya. walau mungkin dia tidak pernah meminta apalagi mengharapkan. Namun Chocomelt tetap mengantarkan kepergianmu juga, dan tentu saya yang menemanimu ke suatu tempat, dimana saya atau kamu tak pernah tau dimana. Menyerah, kata itu seolah tak terbesit dalam gigihnya semangatmu, terus menyerang hingga 'musuh' tertangkap. Memang perjuanganmu akhirnya membawa hasil, kami menemukan dimana persembunyian 'musuh'. Saya dan Kamu bertemu dengannya, dan ternyata juga dengannya, kelak setelah kamu kemudian hari. Chocomelt itu sampai juga ke orang yang berhak menerima, dengan kondisi sudah cair, tidak jua mencairkan suasana kala itu. Terhenyak dan terlampau dingin untuk sembari berceloteh sekenanya. Pun begitu chocomelt itu telah ditangan perempuanmu kawan, misimu berhasil!! dan setelah perjalanan panjang ini, apa yang kamu inginkan, jika pada akhirnya chocomelt itu akan membentuk filosinya sendiri, sesuai jalan cerita yang kamu alami hari itu dan beberapa hari dengan kondisi menyesakkan.
Ekspektasi
Mencair dalam perjalanan memperjuangkan ekspektasimu, dan meski kini harus benar-benar mencair ku kira tak ada yang sia-sia. Seperti yang kamu ceritakan kala melintas di jalan tadi, ada nilai yang bisa kamu dapat. Pengalaman dan dewasa, pengalaman telah mendewasakanmu, mungkin begitu tepatnya, dan itu pelajaran. Bukan berarti kamu gagal, namun itu bekal. Sebuah pretensi yang tak pernah kamu harap ada tapi itu bermanfaat. Ada suatu adagium, masa lalu akan selalu ada dihalaman terdepan sebuah buku. Kamu tak akan pernah lupa dan akan selalu melihatnya setiap kamu akan membuka buku itu. Satu hal yang bisa kamu catat adalah, masa lalu itu juga sebuah rencana, rencana untuk masa depan. Jadi biarkan kisahmu itu menjadi sampul, biarkan saja chocomelt itu mencair, sementara kamu harus tetap melangkah, menggoreskan tinta dengan segala ekspektasi barumu dan bukan terus menangisi hal yang justru membuatmu semakin terperosok. Chocomelt tidak bisa mengalahkanmu, apalagi mengungkungmu. Chocomelt hanya artifisial belaka, dia mencair, itu menunjukan dia tidak bisa mempertahankan bentuk aslinya. Asumsikan sendiri apa itu..