Pages

Tampilkan postingan dengan label Ulasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulasan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Juli 2011

Pagi Diakhir Juni


SELAMAT DATANG pagi diakhir Juni. Tahu tidak, kau tiba terlampau cepat, sampai-sampai belum sempat aku tertidur. Tidak juga aku bermalas-malasan di atas kasur, bergumul dengan bantal-guling kemudian bangun untuk menyambutmu seperti pagi biasanya. Menyibakkan tirai, melihat keluar di sela-sela teralis besi berdebu, aku menengok lewat jendela. Ternyata gelap telah jadi terang. Sudah pukul 5.30. Masih tetap terjaga.

Pagi diakhir Juni. Dimulai kesiangan, pukul 12. Untuk beberapa menit ke depan, pun aku belum sepenuhnya memulai. Belum juga beranjak dari amben. Gara-garanya imajiku masih berseliweran, bergelayutan di antara kehidupan nyata dan lamunan. Sepuluh menit.

Senin, 16 Mei 2011

Realisme Sinema Cinta

SUDAH KETIGA kalinya ––kalau tidak salah ingat, aku menonton lagi film 500 Day Of Summer secara utuh. Film ini dulu aku temukan di komputer LPM Keadilan pada awal 2010, dan saat itu pula untuk pertama kalinya aku setel. Berulang-ulang memutarnya tak sedikitpun ada kejenuhan. Boleh jadi hal tersebut lantaran aku merasakan bahwa ceritanya sedikit banyak bertalian dengan, aku. Khususnya menyangkut soal wanita, intuisi dan cinta, lebih-lebih cinta tanpa penyelesaian.

Sebetulnya aku canggung, bisa juga efek sampingnya bikin bingung, ketika diminta membahas urusan cinta ––sangat ditekankan pada cinta sepasang kekasih. Bagaimana tidak, diantara kawan sekomplotan dalam Grup Menulis Kabita, tampaknya aku adalah jawara untuk predikat jomblo paling lama. Bayangkan saja hampir lima tahun sendiri. Apa enggak kebangetan! Syukur deh kalau ada yang mendekati rekor itu.

Sabtu, 30 April 2011

Sebuah Tanda Tanya Bernama Agama


(?) Tanda Tanya
Sutradara: Hanung Bramantyo
Skenario: Titien Wattimena
Pemain: Reza Rahardian, Revalina S. Temat, Agus Kuncoro, Endhita, Rio Dewanto, Henky Solaiman
Produksi: Mahaka Pictures dan Dapur Film

SEKITAR DUA-TIGA minggu lalu, saya bikin janji dengan kawan lama semasih SMA –Affan Baskara Patria dan Dati Handayani, akan nonton film Tanda Tanya (?) di Bioskop 21. Memang sudah terencana jauh-jauh hari untuk tidak melewatkan film garapan Hanung Bramantyo ini. Konon temanya kontroversial, rada sensisitf karena menyangkut urusan keyakinan. Perihal itu pula yang menjadi salah satu alasan saya tidak ingin menyia-nyiakannya.

Sebetulnya film ini sedikit (walau takarannya sangat kecil sekali) mengecewakan. Tapi nanti saja saya ceritakan dimana letak kekecewaan tersebut. Yang jelas Hanung Bramantyo, lewat Film ? ingin mengangkat realitas kontemporer bangsa Indonesia. Mulai tetekbengek soal aqidah, pluralitas, sosial, ekonomi hingga cinta.

Sabtu, 02 April 2011

Layang-layang Mimpi


BARANGKALI KALAU sore tadi tidak berangkat ke kampus, aku akan terus berkutat pada kerumitan pemilihan sudut pandang, lebih-lebih penentuan titik masuk untuk membawa ke babak demi babak tulisan keduaku ini. Tulisan untuk disertakan dalam kompetisi menulis kecil-kecilan seperti yang pernah aku ceritakan tempo lalu.

Makanya lantaran sebab rumit itu, aku jadi terlambat memposting naskah ini di catatan Facebook sesuai kesepakatan awal bersama kawan sekomplotan. Padahal aku sendiri yang gembar-gembor soal deadline supaya dikumpul tepat waktu. Maafkanlah kawan!

Sabtu, 26 Maret 2011

Menulis Itu Perlu


TERUS TERANG aku sebenarnya sama sekali tidak punya gambaran, menyangkut apa yang mesti aku tulis kali ini. Aku bingung, ide pun enggan berkunjung. Namun, sudah terlanjur disepakati bersama beberapa kolega, bahwasanya kami akan melakukan sebuah kompetisi menulis kecil-kecilan, tanpa piala, tanpa hadiah duit pembinaan. Tidak bergengsi, tapi dengan mimpi tinggi, kelak barangkali gagasan ini akan menjadi tonggak dimulainya budaya menulis. Kami coba mendahului, semoga dapat melecut motivasi.

Godean, Senin, 21 Maret 2011. Tempat itu tidak punya halaman luas untuk berlari-larian. Biar sempit pekarangannya, ia berdiri megah. Ditopang empat pilar, dihiasi ukir-ukiran Jawa plituran nan indah menawan lengkap dengan dua payung antik. Kursi tamunya pengkuh terbuat dari kayu jati, diterangi cahaya temaram lampu gantung, suasananya tenang. Pendopo tersebut nyaman digunakan ngobrol ngalor-ngidul semalaman.

Senin, 21 Februari 2011

Ulasan Padang Bulan


Apa alasan pas buat menyematkan label kecewa di atas sampul buku ini? Yaitu, pada tulisan pengantar, di balik cover buku, lalu di bagian pendahuluan, dari lembaran-lembaran itu saya sudah membayangkan cerita Padang Bulan bakal membahas sosok Enong panjang lebar, termasuk animonya terhadap Bahasa Inggris serta segala keprihatinan hidupnya.

Sayang, pembahasan mengenai Enong cuma diperoleh pada bagian-bagian depan, mungkin hanya sekitar lima sampai tujuh mozaik. Selebihnya, Enong sebatas serbuk-serbuk pelengkap kisah cinta Ikal dengan A Ling. Makanya, kalau mau dibilang kesal, ya wajar.

Selasa, 15 Februari 2011

Tentang Jurnalis Keadilan


SEPEDA ONTHEL merk Humber itu berhenti di depan warung majalah berlabel ‘Lamhaba’. Terengah-engah pemilik onthel melangkah memasuki toko. Sang penjaga nampak sedang sibuk meladeni seorang pembeli. Saya si pemilik tersebut, megap-megap minta tolong diambilkan satu eksemplar Koran Republika. Penjual melayani hangat.

Tadi siang menurut kolega saya, sedang dibuka lowongan reporter dan iklannya tercantum di Koran Republika, yang punya gawai buka lapangan kerja. Lembar per lembar saya buka, belum ketemu. Hingga saya jumpai terpampang besar di sudut kanan bawah halaman empat, –Edisi Senin 10 Januari 2011– tertulis huruf kapital “KESEMPATAN BERKARIER”.