Pages

Tampilkan postingan dengan label Keadilan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keadilan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Februari 2011

Tentang Jurnalis Keadilan


SEPEDA ONTHEL merk Humber itu berhenti di depan warung majalah berlabel ‘Lamhaba’. Terengah-engah pemilik onthel melangkah memasuki toko. Sang penjaga nampak sedang sibuk meladeni seorang pembeli. Saya si pemilik tersebut, megap-megap minta tolong diambilkan satu eksemplar Koran Republika. Penjual melayani hangat.

Tadi siang menurut kolega saya, sedang dibuka lowongan reporter dan iklannya tercantum di Koran Republika, yang punya gawai buka lapangan kerja. Lembar per lembar saya buka, belum ketemu. Hingga saya jumpai terpampang besar di sudut kanan bawah halaman empat, –Edisi Senin 10 Januari 2011– tertulis huruf kapital “KESEMPATAN BERKARIER”.

Sabtu, 08 Januari 2011

Almanak Pak Tua


Penulisan ini aku mulai, sebagai permulaan awal tahun. Sebenarnya aku gagap apa yang mesti dicatat. Sebagian kalimat aku salin di Kantor LPM Keadilan, dua hari silam 5 Januari 2011. Suasana sangat hening kala itu. Hanya ada bunyi desis CPU komputer dan suara televisi dari pos satpam depan. Aku sempatkan bikin catatan sambil menunggu seorang teman yang tak kunjung datang.

Sekarang sudah hari ke delapan di Januari. Masih ada 352 hari lagi untuk mengakhiri tahun ini.
Heraclitus pernah bilang, ”segala sesuatu dalam keadaan bergerak dan tidak ada sesuatu yang diam.”

Senin, 25 Oktober 2010

Tukijo, Antagonisme Petani Yang Dizalimi

“Setiap 17 agustus Indonesia memperingati, katanya kemerdekaan Republik Indonesia. Tapi sementara masyarakat masih dalam penindasan,” kata Tukijo, petani pesisir Kulonprogo. Ia dikriminalisasi, lahan pencahariannya terancam digusur proyek pasir besi. Ketenangan hidupnya terusik.


Kaos hitam bergambar kepalan tangan bertuliskan “tolak tambang besi, selamatkan Kulonprogo” dan celana pendek cokelat dikenakan Tukijo ketika menemui saya di rumahnya, tiga hari lalu. Suguhan bermacam cemilan dan kopi Lampung menambah hangatnya perbincangan kami. Tukijo, petani cabe pesisir Kulonprogo, lahir pada 10 Juni 1966. Wajahnya oval, hidung pipih, berkumis tebal. Badannya tidak terlampau besar, tapi terlihat kekar.

Kediaman Tukijo terletak di Desa Karangsewu Dusun Gupit, Kulonprogo. Tiga tokoh pewayangan, Kresna, Puntodewo dan Werkudoro yang terbungkus plastik bening menghias dinding bata rumahnya. “Saya itu senang wayang, tapi tidak paham dengan urut-urutannya,” ujar Tukijo polos. Di bagian lain terdapat foto-foto perkawinan anak pertamanya, Eko Fitriyanto, menikah pada 2009. Meski rumahnya berbatu merah, ia tetap bersyukur, “walaupun masih seperti ini belum dilepo, ini jerih payah saya dari bertani,” ucapnya bangga