Pages

Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Agustus 2011

Apa Mau Dikata


BOLEH DIBILANG AKU tidak bertindak apa-apa bila tak patut disebut terlambat. Sebab dengan mengajukan banyak alasan pun, cukup sulit mengatakan ini sebuah keterlambatan. Karena aku tidak pernah berpindah tempat, apalagi berbuat, tidak ada waktu yang bergerak, jadi akan lebih cocok jika kata yang disematkan adalah pasif. Walau aku tidak akan pernah bangga dengan label tersebut.

Ikhtisar kepasifan muncul akibat situasi faktual yang serba problematis bagiku. Sedangkan bagi beberapa kolega, keadaan ditafsirkan: semakin lama berdiam diri, semakin besar peluang untuk kehilangan. Atau dalam bahasa tragisnya, diambil orang.

Senin, 16 Mei 2011

Realisme Sinema Cinta

SUDAH KETIGA kalinya ––kalau tidak salah ingat, aku menonton lagi film 500 Day Of Summer secara utuh. Film ini dulu aku temukan di komputer LPM Keadilan pada awal 2010, dan saat itu pula untuk pertama kalinya aku setel. Berulang-ulang memutarnya tak sedikitpun ada kejenuhan. Boleh jadi hal tersebut lantaran aku merasakan bahwa ceritanya sedikit banyak bertalian dengan, aku. Khususnya menyangkut soal wanita, intuisi dan cinta, lebih-lebih cinta tanpa penyelesaian.

Sebetulnya aku canggung, bisa juga efek sampingnya bikin bingung, ketika diminta membahas urusan cinta ––sangat ditekankan pada cinta sepasang kekasih. Bagaimana tidak, diantara kawan sekomplotan dalam Grup Menulis Kabita, tampaknya aku adalah jawara untuk predikat jomblo paling lama. Bayangkan saja hampir lima tahun sendiri. Apa enggak kebangetan! Syukur deh kalau ada yang mendekati rekor itu.

Sabtu, 02 April 2011

Layang-layang Mimpi


BARANGKALI KALAU sore tadi tidak berangkat ke kampus, aku akan terus berkutat pada kerumitan pemilihan sudut pandang, lebih-lebih penentuan titik masuk untuk membawa ke babak demi babak tulisan keduaku ini. Tulisan untuk disertakan dalam kompetisi menulis kecil-kecilan seperti yang pernah aku ceritakan tempo lalu.

Makanya lantaran sebab rumit itu, aku jadi terlambat memposting naskah ini di catatan Facebook sesuai kesepakatan awal bersama kawan sekomplotan. Padahal aku sendiri yang gembar-gembor soal deadline supaya dikumpul tepat waktu. Maafkanlah kawan!

Sabtu, 26 Maret 2011

Menulis Itu Perlu


TERUS TERANG aku sebenarnya sama sekali tidak punya gambaran, menyangkut apa yang mesti aku tulis kali ini. Aku bingung, ide pun enggan berkunjung. Namun, sudah terlanjur disepakati bersama beberapa kolega, bahwasanya kami akan melakukan sebuah kompetisi menulis kecil-kecilan, tanpa piala, tanpa hadiah duit pembinaan. Tidak bergengsi, tapi dengan mimpi tinggi, kelak barangkali gagasan ini akan menjadi tonggak dimulainya budaya menulis. Kami coba mendahului, semoga dapat melecut motivasi.

Godean, Senin, 21 Maret 2011. Tempat itu tidak punya halaman luas untuk berlari-larian. Biar sempit pekarangannya, ia berdiri megah. Ditopang empat pilar, dihiasi ukir-ukiran Jawa plituran nan indah menawan lengkap dengan dua payung antik. Kursi tamunya pengkuh terbuat dari kayu jati, diterangi cahaya temaram lampu gantung, suasananya tenang. Pendopo tersebut nyaman digunakan ngobrol ngalor-ngidul semalaman.

Selasa, 15 Februari 2011

Tentang Jurnalis Keadilan


SEPEDA ONTHEL merk Humber itu berhenti di depan warung majalah berlabel ‘Lamhaba’. Terengah-engah pemilik onthel melangkah memasuki toko. Sang penjaga nampak sedang sibuk meladeni seorang pembeli. Saya si pemilik tersebut, megap-megap minta tolong diambilkan satu eksemplar Koran Republika. Penjual melayani hangat.

Tadi siang menurut kolega saya, sedang dibuka lowongan reporter dan iklannya tercantum di Koran Republika, yang punya gawai buka lapangan kerja. Lembar per lembar saya buka, belum ketemu. Hingga saya jumpai terpampang besar di sudut kanan bawah halaman empat, –Edisi Senin 10 Januari 2011– tertulis huruf kapital “KESEMPATAN BERKARIER”.

Sabtu, 29 Januari 2011

Pamitan


Pada mulanya aku punya gagasan akan bahas mengenai Nona S. yang tidak sengaja berjumpa di suatu tempat kemarin siang. Sementara ini pembahasan tersebut ditunda dulu, karena pada malam hari setelah bertemu Nona S. ada peristiwa penting dan sayang bila terlewatkan. Persuaan dengan Nona S. bakal aku ceritakan belakangan.

Jarum jam menunjukan pukul sebelas malam. Sepeda motor itu melaju kencang menembus jalanan dipayungi temaram lampu kota. Aku dan seorang sohib, Adhit Dhroe Dibyandaru, berboncengan menuju ajang pertemuan di rumah Anto Nurjananto. Band BOHE akan berkumpul, tukar pikiran sekaligus, nanti saja aku beri tahu di paragraf selanjutnya.

Sabtu, 08 Januari 2011

Almanak Pak Tua


Penulisan ini aku mulai, sebagai permulaan awal tahun. Sebenarnya aku gagap apa yang mesti dicatat. Sebagian kalimat aku salin di Kantor LPM Keadilan, dua hari silam 5 Januari 2011. Suasana sangat hening kala itu. Hanya ada bunyi desis CPU komputer dan suara televisi dari pos satpam depan. Aku sempatkan bikin catatan sambil menunggu seorang teman yang tak kunjung datang.

Sekarang sudah hari ke delapan di Januari. Masih ada 352 hari lagi untuk mengakhiri tahun ini.
Heraclitus pernah bilang, ”segala sesuatu dalam keadaan bergerak dan tidak ada sesuatu yang diam.”

Minggu, 05 Desember 2010

Si Kecil dan Serdadu Kebasahan


Di kelebatan hujan, dari arah utara Jalan Mataram muncul sebuah truk tertuliskan Yonif 407/PK. Segerombolan serdadu berseragam hijau lumut terlihat kebasahan di atas bak truk tanpa terpal itu. Lampu lalu lintas di perempatan Hotel Melia Purosani menyala merah, saat mereka saling berdempetan satu sama lain dan tertawa terbahak-bahak. Suaranya teramat kencang sampai menarik perhatian orang yang melintas maupun sedang berteduh di pinggir jalan. Tapi hanya satu orang saja yang tidak menoleh.

Si kecil bertelanjang dada dengan riangnya bermain air di ujung gang sempit tepi jalan besar. Hujan masih sangat deras, rambut cepak anak itu berair, bagian depannya menempel dikening, mengalir membasahi muka, sampai bersimbah di badannya. Cukup mengenakan celana pendek berwarna biru tanpa busana untuk tetap membuatnya terus larut dalam becek. Seakan tak bergeming dengan suasana sekitar, yang mungkin saja terus memperhatikan polahnya.

Rabu, 01 Desember 2010

Tangisan Binto


Syahdan, pada siang cerah setelah solat jumat. Anak kecil itu mengenakan kaos garis-garis hitam putih, bercelana kolor merah jingga. Binto, begitu dia biasa disapa, umurnya sekitar lima tahun. Wajahnya bulat, rambutnya tipis dan berkulit hitam. Sambil jongkok menyandar tembok sisi samping rolling dor, membelakangi sebuah pot ditanami kaktus milik Pak Haji, Binto menangis sejadinya.

Terisak-isak Binto bercerita, kalau baru saja ia tersinggung dengan ucapan salah seorang teman, yang jua merupakan buliknya. Si Bulik berkata tidak mau bercengkerama dengan Binto. "Bulik Asih nakal, Bulik tidak mau main lagi sama aku," ucap Binto polos, suaranya putus-putus, derai air mata bercucuran.

Senin, 25 Oktober 2010

Tukijo, Antagonisme Petani Yang Dizalimi

“Setiap 17 agustus Indonesia memperingati, katanya kemerdekaan Republik Indonesia. Tapi sementara masyarakat masih dalam penindasan,” kata Tukijo, petani pesisir Kulonprogo. Ia dikriminalisasi, lahan pencahariannya terancam digusur proyek pasir besi. Ketenangan hidupnya terusik.


Kaos hitam bergambar kepalan tangan bertuliskan “tolak tambang besi, selamatkan Kulonprogo” dan celana pendek cokelat dikenakan Tukijo ketika menemui saya di rumahnya, tiga hari lalu. Suguhan bermacam cemilan dan kopi Lampung menambah hangatnya perbincangan kami. Tukijo, petani cabe pesisir Kulonprogo, lahir pada 10 Juni 1966. Wajahnya oval, hidung pipih, berkumis tebal. Badannya tidak terlampau besar, tapi terlihat kekar.

Kediaman Tukijo terletak di Desa Karangsewu Dusun Gupit, Kulonprogo. Tiga tokoh pewayangan, Kresna, Puntodewo dan Werkudoro yang terbungkus plastik bening menghias dinding bata rumahnya. “Saya itu senang wayang, tapi tidak paham dengan urut-urutannya,” ujar Tukijo polos. Di bagian lain terdapat foto-foto perkawinan anak pertamanya, Eko Fitriyanto, menikah pada 2009. Meski rumahnya berbatu merah, ia tetap bersyukur, “walaupun masih seperti ini belum dilepo, ini jerih payah saya dari bertani,” ucapnya bangga

Senin, 27 September 2010

Gadis Hidung Mancung


Gadis itu berjilbab ungu. Tidak sepenuhnya tertutup, rambutnya tampak masih sedikit menyembul keluar. Ia berkemeja putih garis-garis dan celana jeans ketat. Aku sedikit kurang padu dengan penampilannya. Tapi tak apalah, ini soal selera. Mungkin dia sedang berhasrat dengan sandang macam itu. Aku tidak akan bahas masalah selera, toh nanti bisa berubah.

Saat ini kau jadi pemenang, juara satu gadis muda jelita di kampungku. Aku kira orang lain akan sekata dengan pendapat ini. Secara lahiriah sepatutnya mereka, atau paling tidak sejumlah orang punya kesan sama denganku dalam menilaimu.

Sabtu, 18 September 2010

Tabik Untuk Nama

Nama, aku ingin bilang, kalau potongan huruf yang akan mengeja namamu telah aku susun dan menjadi satuan kata utuh, tertulislah namamu. Aku titipkan pada seorang teman kemarin, melalui pesan pendek berisi tabik dariku. Seluruhnya tercatat singkat seperti ini, ”sampaikan salam untuk Nama, bila ia datang nanti.” Maaf bila lancang tanpa konsesi. Awalnya sungguh kulakukan sekedar gurau belaka.

Namun kian lama, aku terpikirkan juga, teringat persuaan cepat dulu kala. Canggung tanganku mewakili mulutku berbahasa, tapi mesti aku beri tahu juga. Aku berpretensi kau menjawab, meski dengan syarat tentunya, tabik sampai padamu. Entah sudah kau dengar sendiri atau tidak dari temanku itu.

”Bila sudah, aku menunggu balasmu Nama. Jika tidak, biarlah aku menanti dan kau tak perlu tahu, atau kau mau tak peduli, tak apalah, itu hakmu.” Sebatas premis saja, beribu lelaki menganggumimu. Bahkan barangkali bagi mereka, dapat memiliki adalah suatu kemuliaan, begitu pun aku. Memang namamu terlalu indah untuk disendirikan. Bahwasannya telah kau tetapkan pilihan, semoga manusia baik yang akan mendampingimu. ”Beruntunglah lelaki itu kelak, andai dapat menyanding namamu, Nama.”

Jumat, 10 September 2010

Bocah Pemungut Koran

Ini sudah Idul Fitri ketiga aku datang ke kota J. Tak perlu aku bilang namanya. Tiap hari raya tiba, biasanya aku turun gunung mencari nafkah disana. Sendirian dengan mengendarai bus. Simbah aku tinggalkan sejenak di kediamannya. Aku jadi pemungut koran. Peruntunganku bergantung pada jumlah jamaah solat Ied yang membawa surat kabar sebagai alas sajadahnya. Makin banyak, kemungkinan mengeruk rupiah kian besar. Meski aku juga harus berebut dengan pengumpul koran lain.

Namaku Slamet Legiman. Sepintas terdengar seperti nama orang Jawa kuno. Cerita simbahku, aku lahir tidak menangis. Orang sekelilingku belingsatan kala itu, telah mati pula diriku yang masih orok bau darah ini. Baru beberapa menit kemudian isakanku untuk pertama pecah. Karena lolos dari maut, ibu menyematkan nama Slamet. Legiman pemberian simbah, diambil hari pasaran Jawa waktu kemunculanku, Kamis Legi, sepuluh tahun lalu, pada 1998 tepatnya.

Kamis, 09 September 2010

Mengaji

Adzan berkumandang di Masjid di suatu kampung tengah kota Yogyakarta. Telah masuk waktu Isya di malam ke 13 Puasa. Kondisi lingkungan Masjid cukup unik. Mayoritas warga beragama Islam, namun ada tetangga sekitar Masjid kaum non Muslim. Toleransi jelas harus dibina dan dijaga. Tadarusan jadi rutinitas bertahun-tahun tiap habis tarawih. Beberapa anak perempuan dan lelaki berkala hadir, juga orang-orang dewasa perantauan, hanya sedikit pribumi. Apalagi anak muda, tipis antusiasme melafazkan Quran untuk memakmurkan Masjd di bulan Ramadhan. Mungkin minder atau belum masyhur ditelinga mereka jika satu huruf Al-Quran yang dibacanya berbalas sepuluh kebaikan. Alif Lam Mim tidak satu huruf, tapi terpisah. Alif, satu huruf dan Lam satu huruf serta Mim satu huruf.

Pengeras suara berputar, dari satu orang ke orang lain. Bila telah habis ruku, pembaca berganti. Mendayu-dayu ayat Allah dilagukan, terasa sejuk. Ada keinginan menirunya, hanya suara terdengar sumbang. Sadar kemampuan rendah, cukuplah saya dengan nada datar saja. Sebagian bocah tampak tak lancar mengeja huruf arab keriting berderet. Terkadang lucu juga, mendengar suara anak kecil dengan polosnya melafazkan Quran, sering tidak fokus pada bacaan dan banyak polah. Tapi pikir saya patut dihargai, setidaknya mereka tak malu dan mau belajar walau harus gopah-gopoh berucap. Seperti dikatakan H.R Bukhari Muslim, orang yang masih terbata-bata membaca Al-Quran tetap diberi kenikmatan berupa pahala dua kali lipat. Seraya mengaji, makan dan minuman ta’jil dibagi.

Wanita Perantauan

Seorang perempuan dari tempat jauh, terpisah pulau, mengirim pesan pendek tadi sekitar pukul tujuh malam lebih sedikit. Sepulang tarawih baru saya baca. Singkat ia menyatakan rasa rindu sangat mendalam pada saya, lelaki yang sudah dikenalnya sejak masih bocah. Telah lama tak berjumpa, sekarang ia ada di daerah rantau. Sesaat suasana berubah pilu, mendengar kabarnya dalam pengelanaan. Di ceritakan ia sedang dalam kondisi tak sehat, diare serta mulut terus mengeluarkan makanan yang belum sepenuhnya tercerna dalam perut, muntah-muntah hingga dehidrasi tingkat tinggi. Satu hari sempat menginap dirumah sakit, baru sore tadi keluar. Memang tak sanggup lama-lama, karena tak banyak uang di saku untuk biaya berobat. Takut timbul khawatir, sakit itu ia sembunyikan. Orang rumah tak dapat berita.

Sementara ini harus sendirian dulu ia di tempat tinggal, tanpa teman melawan sakit yang belum sembuh benar. Kawan satu atapnya sedang keluar, walau nanti kembali, ia tetap mengeluh kesepian. Mungkin watak perempuan, perasaannya mudah labil. Hanya sungguh miris mendengar kondisinya. Lemari apalagi televisi tak ada. Kamar kostnya berluas sekitar 5x4 meter, diisi dua orang. Satu ranjang skala sedang dipakai tidur berdua. Untuk menyimpan cadangan makanan digunakan tupperware berdimensi lumayan besar. Terdapat karpet biru, dua koper dan beberapa kardus untuk wadah pakaian. Sebagian barang-barang diamankan dalam kardus.