Pages

Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Juli 2011

Media, Wahana Pencerdasan Bangsa


IDAH ROSIDAH SEDANG sibuk di depan laptopnya. Ia sedang online. Membuka-buka jejaring sosial dan beberapa situs berita. Menurutnya, sekarang orang sudah berpaling ke media online. “Lebih efektif,” ujarnya.

Mulai ngetrendnya dunia maya dalam satu satu dekade belakangan, menurut mojang berkacamata asal Bandung ini membikin praktis. “Karena media online sudah bisa masuk telepon genggam, jadi kita dapat mengupdate berita kapanpun dan dimanapun.” Sedangkan untuk media cetak, “Agak terbatas dan sulit juga untuk kita mencarinya ––informasi,” tambahnya.

Sabtu, 02 April 2011

Layang-layang Mimpi


BARANGKALI KALAU sore tadi tidak berangkat ke kampus, aku akan terus berkutat pada kerumitan pemilihan sudut pandang, lebih-lebih penentuan titik masuk untuk membawa ke babak demi babak tulisan keduaku ini. Tulisan untuk disertakan dalam kompetisi menulis kecil-kecilan seperti yang pernah aku ceritakan tempo lalu.

Makanya lantaran sebab rumit itu, aku jadi terlambat memposting naskah ini di catatan Facebook sesuai kesepakatan awal bersama kawan sekomplotan. Padahal aku sendiri yang gembar-gembor soal deadline supaya dikumpul tepat waktu. Maafkanlah kawan!

Sabtu, 08 Januari 2011

Almanak Pak Tua


Penulisan ini aku mulai, sebagai permulaan awal tahun. Sebenarnya aku gagap apa yang mesti dicatat. Sebagian kalimat aku salin di Kantor LPM Keadilan, dua hari silam 5 Januari 2011. Suasana sangat hening kala itu. Hanya ada bunyi desis CPU komputer dan suara televisi dari pos satpam depan. Aku sempatkan bikin catatan sambil menunggu seorang teman yang tak kunjung datang.

Sekarang sudah hari ke delapan di Januari. Masih ada 352 hari lagi untuk mengakhiri tahun ini.
Heraclitus pernah bilang, ”segala sesuatu dalam keadaan bergerak dan tidak ada sesuatu yang diam.”

Minggu, 05 Desember 2010

Si Kecil dan Serdadu Kebasahan


Di kelebatan hujan, dari arah utara Jalan Mataram muncul sebuah truk tertuliskan Yonif 407/PK. Segerombolan serdadu berseragam hijau lumut terlihat kebasahan di atas bak truk tanpa terpal itu. Lampu lalu lintas di perempatan Hotel Melia Purosani menyala merah, saat mereka saling berdempetan satu sama lain dan tertawa terbahak-bahak. Suaranya teramat kencang sampai menarik perhatian orang yang melintas maupun sedang berteduh di pinggir jalan. Tapi hanya satu orang saja yang tidak menoleh.

Si kecil bertelanjang dada dengan riangnya bermain air di ujung gang sempit tepi jalan besar. Hujan masih sangat deras, rambut cepak anak itu berair, bagian depannya menempel dikening, mengalir membasahi muka, sampai bersimbah di badannya. Cukup mengenakan celana pendek berwarna biru tanpa busana untuk tetap membuatnya terus larut dalam becek. Seakan tak bergeming dengan suasana sekitar, yang mungkin saja terus memperhatikan polahnya.

Kamis, 29 Juli 2010

Avontur Badui: Penggalan Pertama Laporan Perjalanan

Butuh sekitar 20 menit dari Terminal Ciboleger, Serang, Banten untuk naik wilayah Badui luar menuju desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar kampung pertama yang mesti dilalui. Selain juga ada 3 desa tempat suku Badui luar bermukim. Kampung Balingbing, Babakan Marengo dan Kampung Gajeboh. Harus berjalan kaki untuk menuju kesana. Jalan setapak berbatu, menanjak, sisi kanan dan kiri masih hutan, sungai kecil pun mesti diseberangi. Sehabis hujan, tanah akan basah, licin. Harus berhati-hati dengan kondisi itu, bila tak ingin terpeleset.

18.15 ditemani Udil dan Kang Saldi yang sudah menunggu kedatangan kami di terminal Ciboleger, saya beserta 5 teman, Tommy Apriando, Adnan Fauzi Siregar, Fauzi Nasrul Maulana, M. Andi Anwar dan Martin Yudha Sanjaya alias Pongge, rombongan tamu dari LPM Keadilan mendatangi Kampung Kanekes. Medan sangat gelap, cuma bercahayakan lampu senter. Memang tak ada listrik, listrik menjadi salah satu pantangan di Badui. Rencana akan menginap di saung Udil selama berada di pedalaman. Udil, lelaki kurus asli Badui. Wajahnya oval, rambut pendek. Hidung pipih, mukanya bersih, nyaris tak ada noda. Hanya ditumbuhi jenggot cukup lebat. Usianya baru 20, tapi anaknya sudah dua, masih kecil-kecil, perempuan semua. Namanya Marsya, dan Cesie adik tirinya.

Perjalanan cukup menguras tenaga. Udil mempersilakan tamunya masuk, untuk melepas lelah di rumah panggung miliknya. Rumah panggung menjadi rumah adat Suku Badui. Akan selalu ada bunyi berdecit tiap kali kita melangkah dilantai bambu rumah itu. Dindingnya terbuat dari kulit bambu yang dianyam. Genteng berasal dari alang-alang kering, lima tahun sekali diganti. Beberapa batang kayu berfungsi menyangga rumah, diganjal dengan batu besar. Ada dua pintu masuk, terasnya membentuk persegi panjang. Tiap akan membangun rumah, tanah selalu diratakan dulu.

Sejenak ditinggalnya kami di ruang gelap, minim cahaya. Penerangan hanya menggunakan satu buah lampu tempel (teplok). Beberapa menit Udil kembali, bersama Kang Saldi, kakak kandung Udil membawa ceret berisi air putih serta gelas dan sepiring kecil aren. “Ini bentuknya seperti gula jawa ya?” tanya saya. Warna coklat, rasa manis. Di Jawa, aren lebih dikenal dengan nama gula Jawa. Segelas air putih, melepas dahaga yang sudah begitu meradang. “Itu air gunung, bagaimana rasanya?” Kang Saldi coba memancing kepekaan rasa kami. “Segar sekali,” gumamku.

Istri Udil menyusul dibelakang. Sayang, saya tidak sempat menanyakan namanya. Wajahnya samar tertutup siluet dari pancaran cahaya lampu teplok. Sepintas dia cantik. Baru esok harinya saya ketahui dia memang cantik. Satu persatu disalaminya pendatang dari Yogya ini, tampak rikuh. Rambutnya panjang, mata sedikit sipit, kulit putih. Umurnya kalau tidak salah tafsir sekitar 18. Ia tidak ikut bergabung dengan kami, “malu istri saya,” kata Udil. Karakter gadis Badui walau terlihat rupawan, ia minder kalau ketemu orang kota.

Percakapan malam itu berlangsung lama. Beberapa hal jadi topik pembahasan. Khususnya kami, orang asing baru datang di kampung orang. Tentu banyak hal tidak diketahui. Udil dan Kang Saldi telaten menjawab beragam pertanyaan dari kami. Beruntung, mereka orangnya ramah. Meski diawal masih canggung, lama-lama cair juga. Dikenalkan pula kami pada ayah dan ibu Udil. Ayahnya terlihat renta, mimik wajahnya menunjukan ia sudah letih. Usia mungkin sekitar 60. Hanya wajah ibu kelihatan lebih segar, meski rambut panjangnya sudah beruban. Suami istri ini tak bisa bahasa Indonesia, bahasa Sunda saja mereka kuasai. Sang ayah jadi salah satu sesepuh yang disegani di kampungnya.

Ayah Udil membuka bungkusan berisi tembakau dan lembaran kertas minyak. Tembakau dibungkus dengan kertas, dilinting, disulut api, lalu dihisap. Asap rokok mulai tercecer dalam ruangan. Empat orang merokok, Andi, Yudha, Adnan, dan Kang Saldi. Ibu Udil menyempatkan diri menawarkan barang dagangannya. Kain Lomar, warnanya cukup mencolok dikeremangan malam, perpaduan biru tua dan muda, bermotif batik. bersambung..
*2 Juli 2010

Sabtu, 24 Juli 2010

Dimas, Esa dan Kuda Debog

Dimas anak kelas satu SD Negeri Keji, memakai baju warna merah ketika saya temui, badannya lebih besar ketimbang Esa yang memakai baju warna orange. Esa sudah kelas tiga, sekolah di tempat yang sama. SD mereka pernah hampir ditutup pemerintah, karena kekurangan murid. Berdua sedang sibuk membuat Kuda debog untuk pagelaran esok Minggu pagi. Akan ada sepuluh tamu dari Belanda datang ke desa mereka.

Dimas dengan jari-jari kecilnya tampak lebih lincah menganyam pelepah pisang menjadi kuda mainan dari pada Esa. Butuh dua pelepah untuk menghasilkan Kuda Debog. Pertama, ia mengelupas daunnya hingga habis, seperempatnya dibengkokkan, bagian atas dicacah menjadi dua, kemudian melubanginya sebagai tempat untuk memasukkan kepalanya. Pelepah pisang kedua dijadikan sebagai kepala dan badan kuda. Daunnya tidak dibabat habis, tapi dibentuk bunjai, semacam bulunya. Pelepah pertama dan kedua disatukan dengan tali rafia.

Dua hari berkenalan dan bergaul dengan Dimas dan Esa, juga Anggun, David, Udin, Sabar, Purwanto dan Rudi. Delapan bocah asli kaki Gunung Ungaran, Desa Keji, Dusun Suruhan, Jawa Tengah. Nuansa alam dan seni budaya masih kental di sana. Mainan tradisional egrang, dakon, teklek, lompat tali, gasing, lesung, kuda debog (kuda lumping) peninggalan nenek moyang masih bisa dinikmati. Beruntungnya mereka tidak tergerus arus modernisasi.
*5 Juni 2010

Jumat, 16 Juli 2010

Kamis Minggu Ini

24 jam ini waktu sangat meletihkan. Awal, terjaga kesiangan. Maksud bangun lebih pagi, tapi tak juga bisa. Tiap menyibak mata, jam dinding selalu diangka 9. Sejenak mengembalikan kesadaran bersandar di atas dipan, setelah 7 jam tidur. Baru jam 2 pagi saya terpejam.

Sesudah itu, melangkah menuju kamar mandi. Membasahi tubuh. Air kran menyala mengisi bak, suaranya terdengar deras. Sabun dibasuhkan, hilang bau kecut di badan. Odol dan sikat membantu memutihkan gigi, nafas juga wangi. Selesai, dan berdandan. Solat subuh, walau sudah siang tetap dijalani, daripada tidak. Bunyi kres..kres, sumber ada di dapur. Sebungkus Indomie diremuk. Ibu sedang menyiapkan sarapan. Mie rebus menu pagi ini.

Bersiap. dan tepat pukul 10, saya berangkat ke Kantor. LBH Yogyakarta. jam 11 ada janji dengan beberapa siswa SMAN 1 Gamping, Sleman untuk menyerahkan kartu pelajar dan foto copy raport serta tanda tangan surat kuasa. Sehari sebelumnya 14 Juli sudah datang ke kantor, mengadukan kasus yang menimpa mereka. Wartawan penuh sesak kala itu. Berburu berita. Terdapat 5 remaja SMA dan beberapa perwakilan orang tua murid serta komunitas peduli pendidikan. Ada dua kasus, pertama, masalah tidak dinaikkannya siswa-siswa tersebut ke kelas 3. Alasan tidak naik karena kelimanya mengadakan demonstrasi, menuntut transparansi sekolah. Sesungguhnya ada 13 anak yang tinggal kelas, tapi hanya 5 orang yang bisa hadir. Kedua, kasus dugaan adanya pungutan liar uang seragam penerimaan murid baru di sekolah-sekolah negeri.

10.20 Saya tiba di kantor. Halaman sudah penuh kendaraan. Ternyata hari ini ada pers confrence lagi. Kali ini terkait kasus pemukulan oknum polisi terhadap tersangka. Kantor kebanjiran juru warta lagi. Saya terlambat, pertemuan sudah berlangsung. Sebentar saya mengikuti, menyaksikan sang ibu tersangka menangis. Disamping duduk kerabat anaknya. Sang anak jadi korban. Ia ditahan atas kesalahan yang tidak dilakukannya. Mukanya harus lebam pula, dipukul si bapak berseragam coklat. Sekitar 15 menit berlalu, persuaan dengan juru warta usai. Saya kembali ke aktifitas semula yang sempat tertunda. Mengerjakan desain banner untuk stand LPM Keadilan. Hari sabtu akan ada festival pers mahasiswa di Beteng Vredeburg. Diselenggarakan oleh LPM Himmah, dalam rangka Milad. Hanya pekerjaan ini urung saya lakukan. Corel di laptop tak bisa dibuka.

Tak lama, lalu seluruh staf diminta kumpul pimpinan. Briefing kasus yang masuk. Koordinator dan kerja dibagi. Saya dapat tugas, mengampu kasus murid tidak lulus. Tapi bukan sebagai penanggungjawab. Sedangkan yang lain, menyelesaikan kasus kekerasan polisi dan pungutan liar.
Sudah pukul 11, mereka tak juga tampak. Rapat masih berlanjut, namun hanya divisi ekosob. Pungutan liar dan perkara murid SMA jadi topik bahasan.

kisah satu hari ini masih panjang, tapi jam dinding sudah berdentang. Jarum pendek menunjuk angka 3 dan jarum panjang di angka 9. 14.45. Mata semakin berat saja. Saya berhenti sejenak bercerita, menulis hal tak penting ini. Sambung esok lagi.
*15 Juli 2010

Senin, 28 Juni 2010

Nasionalisme Pedalaman

Perempuan renta, tinggal di desa Banjarsari, Kulonprogo. Rambutnya beruban, kulitnya berkeriput, terbungkus jarik dan kaos warna putih lusuh, sepertinya sisa peninggalan jaman perang. Ia istri pak dukuh. Usianya tak lagi muda, sekitar 55-an tahun. Seingat saya ia punya dua orang anak, sudah berkeluarga semua. Memiliki empat orang cucu. Saya takjub ketika ia berbicara tak seperti kebanyakan orang desa seusianya.
Bukan saya tapi dia mengawali obrolan.

Tadi siang, kami berdialog tentang demokrasi Negeri ini. Bagaimana atensi dia pada Amien Rais, orang yang dianggapnya punya jasa besar membangun Indonesia, keberanian dia menggulingkan rezim otokrasi Soeharto. Meski bagi saya Amien tidak lebih sebagai orang plin-plan. Tapi ia bangga menceritakan sosok idolanya.

Juga berbicara tentang keprihatinannya pada figur pemimpin yang tak lagi dapat dipercaya, ketika janji kampanye harus ditagih dulu, dan bukan karena dia sadar pernah berjanji. Ditagih pun tidak menjamin akan dilaksanakan. Ia sempat memuji Bupati Kulonprogo, karena perhatian dengan penduduk desanya, meski mengabaikan penduduk pesisir.

Pembicaraan berakhir dengan kutipan manis dari mulutnya, berbagai kebusukan di Negeri ini tak mengurangi hormatnya pada tanah kelahiran "Right or wrong, this is My Country," ucapnya bangga. Walau tua dan orang desa tampaknya ia lebih nasionalis.
*13 Mei 2010