Adzan berkumandang di Masjid di suatu kampung tengah kota Yogyakarta. Telah masuk waktu Isya di malam ke 13 Puasa. Kondisi lingkungan Masjid cukup unik. Mayoritas warga beragama Islam, namun ada tetangga sekitar Masjid kaum non Muslim. Toleransi jelas harus dibina dan dijaga. Tadarusan jadi rutinitas bertahun-tahun tiap habis tarawih. Beberapa anak perempuan dan lelaki berkala hadir, juga orang-orang dewasa perantauan, hanya sedikit pribumi. Apalagi anak muda, tipis antusiasme melafazkan Quran untuk memakmurkan Masjd di bulan Ramadhan. Mungkin minder atau belum masyhur ditelinga mereka jika satu huruf Al-Quran yang dibacanya berbalas sepuluh kebaikan. Alif Lam Mim tidak satu huruf, tapi terpisah. Alif, satu huruf dan Lam satu huruf serta Mim satu huruf.
Pengeras suara berputar, dari satu orang ke orang lain. Bila telah habis ruku, pembaca berganti. Mendayu-dayu ayat Allah dilagukan, terasa sejuk. Ada keinginan menirunya, hanya suara terdengar sumbang. Sadar kemampuan rendah, cukuplah saya dengan nada datar saja. Sebagian bocah tampak tak lancar mengeja huruf arab keriting berderet. Terkadang lucu juga, mendengar suara anak kecil dengan polosnya melafazkan Quran, sering tidak fokus pada bacaan dan banyak polah. Tapi pikir saya patut dihargai, setidaknya mereka tak malu dan mau belajar walau harus gopah-gopoh berucap. Seperti dikatakan H.R Bukhari Muslim, orang yang masih terbata-bata membaca Al-Quran tetap diberi kenikmatan berupa pahala dua kali lipat. Seraya mengaji, makan dan minuman ta’jil dibagi.
Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 09 September 2010
Langganan:
Postingan (Atom)