Pages

Jumat, 12 Agustus 2011

Apa Mau Dikata


BOLEH DIBILANG AKU tidak bertindak apa-apa bila tak patut disebut terlambat. Sebab dengan mengajukan banyak alasan pun, cukup sulit mengatakan ini sebuah keterlambatan. Karena aku tidak pernah berpindah tempat, apalagi berbuat, tidak ada waktu yang bergerak, jadi akan lebih cocok jika kata yang disematkan adalah pasif. Walau aku tidak akan pernah bangga dengan label tersebut.

Ikhtisar kepasifan muncul akibat situasi faktual yang serba problematis bagiku. Sedangkan bagi beberapa kolega, keadaan ditafsirkan: semakin lama berdiam diri, semakin besar peluang untuk kehilangan. Atau dalam bahasa tragisnya, diambil orang.

Selasa, 19 Juli 2011

Pagi Diakhir Juni


SELAMAT DATANG pagi diakhir Juni. Tahu tidak, kau tiba terlampau cepat, sampai-sampai belum sempat aku tertidur. Tidak juga aku bermalas-malasan di atas kasur, bergumul dengan bantal-guling kemudian bangun untuk menyambutmu seperti pagi biasanya. Menyibakkan tirai, melihat keluar di sela-sela teralis besi berdebu, aku menengok lewat jendela. Ternyata gelap telah jadi terang. Sudah pukul 5.30. Masih tetap terjaga.

Pagi diakhir Juni. Dimulai kesiangan, pukul 12. Untuk beberapa menit ke depan, pun aku belum sepenuhnya memulai. Belum juga beranjak dari amben. Gara-garanya imajiku masih berseliweran, bergelayutan di antara kehidupan nyata dan lamunan. Sepuluh menit.

Sabtu, 09 Juli 2011

Media, Wahana Pencerdasan Bangsa


IDAH ROSIDAH SEDANG sibuk di depan laptopnya. Ia sedang online. Membuka-buka jejaring sosial dan beberapa situs berita. Menurutnya, sekarang orang sudah berpaling ke media online. “Lebih efektif,” ujarnya.

Mulai ngetrendnya dunia maya dalam satu satu dekade belakangan, menurut mojang berkacamata asal Bandung ini membikin praktis. “Karena media online sudah bisa masuk telepon genggam, jadi kita dapat mengupdate berita kapanpun dan dimanapun.” Sedangkan untuk media cetak, “Agak terbatas dan sulit juga untuk kita mencarinya ––informasi,” tambahnya.

Minggu, 26 Juni 2011

Membuka Kran Aspirasi Politik


SUDAH BEBERAPA bulan ini sudut-sudut kota Yogyakarta terlihat meriah. Ada poster besar warna-warni, bergambar orang berpeci mengenakan pakaian batik sedang ramahtamah sambil menyerahkan bantuan, tidak kurang jargon heroiknya. Sementara di sudut lain spanduk berisi sanjungan dari komunitas-komunitas tertentu tampil elegan bak memuji seorang pahlawan. Pilkada sudah dekat, kampanye mesti semakin giat.

Pada 2011 ini Yogyakarta punya dua hajatan besar demokrasi. Pertama 19 Juni Pilkada Kulonprogo dan 25 September giliran Pilkada Kota Yogyakarta. Sejumlah calon telah jauh-jauh hari merancang agenda pemenangan. Dari membentuk tim sukses, bikin anggaran dana yang besar, sampai ngalor-ngidul nglamar ke partai politik. Atau bagi yang punya ’pengaruh’ tinggal duduk manis menunggu pinangan maka kendaraan politik akan datang.