Pages

Rabu, 08 Februari 2012

Friksi Perkawinan Sesama Jenis

ORIENTASI SEKS TERKINI tidak lagi sebatas heteroseksual belaka, namun juga orientasi sesama jenis (homoseksual). Meski kemunculannya masih silang pendapat, tapi fenomena homoseksual adalah keniscayaan yang tidak bisa diingkari. Lebih-lebih sejalan dengan perkembangan Hak Asasi Manusia (HAM) yang semakin mendunia dewasa ini, kelompok-kelompok homoseksual juga kian giat memperjuangkan keegaliteran gender, termasuk hak untuk disetarakan dalam perkawinan.
Negara-negara, terutama di Barat, sedikit-demi-sedikit mulai menggalakkan pengesahan perkawinan sejenis yang mula-mula dipelopori oleh Belanda yang mengesahkan perkawinan ini pada 21 Maret 2000, ––pada tahun pertama saja tercatat di Belanda ada 2.414 pasangan sejenis yang menikah. Terakhir belum lama ini, pada Juni 2011, anggota senat negara bagian New York, Amerika Serikat juga melegalisasi undang-undang pernikahan sesama jenis. New York menjadi negara bagian keenam dan terbesar yang membolehkan pernikahan sesama jenis. Sebelumnya negara bagian Connecticut, Lowa, Massachussets, New Hampshire, Vermont dan Washington telah lebih dulu membolehkan pernikahan sesama jenis.

Minggu, 08 Januari 2012

Catatan Persekusi di Somalia

Semua foto diambil dari laman www.hrw.org

SEJARAH KONFLIK di Somalia dimulai pada 1991 saat rezim otoriter Mohammad Siad Barre lengser. Siad Barre adalah mantan presiden berideologi sosialis dan pernah bertugas sebagai komandan tentara dalam pemerintahan demokratik Somalia. Pada 1969 ia melakukan kudeta terhadap Presiden Abdirashid Ali Shermarke dan sejak itu Siad Barre berkuasa di Somalia hingga digulingkan pada 1991.
Pada pertengahan 1980-an, terjadi pemberontakan yang mengusik rezim Siad Barre sebagai presiden. Beberapa kelompok berhasil menguasai sebagian wilayah, terutama daerah Somalia Utara (sekarang Somaliland). Barre lalu melancarkan serangan balasan. Rezim diktator ini kemudian dilengserkan oleh pemberontak karena pada serangannya itu ia mulai menyerang kelompok wanita yang membangkang pemerintahan dengan pasukan khususnya Baret Merah. Africa Watch pada 1990 melansir, sekitar 50.000-60.000 orang tewas akibat aksi perlawanan antara 1988 dan 1990.

Minggu, 01 Januari 2012

Cekcok Universalisme vs Relativisme Budaya

GENESIS KONSEP hak asasi manusia dimulai dengan diskursus mengenai hak kodrati yang bisa dilacak hingga jaman kuno Yunani dan Roma. Hak kodrati punya relasi intim dengan doktrin hukum alam pra modern milik Greek Stoicism (Stoisisme Yunani), kampus filsafat yang didirikan Zeno di Citium. Doktrin Stoisisme berpandangan, kekuatan kerja yang universal mencakup semua ciptaan dan tingkah laku manusia, maka model penilaiannya disandarkan pada hukum alam.
Stoisisme adalah satu-satunya aksi yang paling digdaya dan berlangsung paling lama dalam sejarah filsafat Yunani dan Romawi. Sejumlah filsuf yang lahir dari doktrin ini setelah Aristoteles antara lain, Zeno orang Phenicia yang jadi pelopor Greek Stoicism dan mulai mengajar pada sekitar 300 tahun Sebelum Masehi, kira-kira antara 335-263 SM. Kemudian pada 280-206 SM lahir pula filsuf Stois lain bernama Chrysippus.
Selama masa jaya sampai perpecahan Kaisar Romawi, para filsuf Stois mengajar. Topik mereka tentang hidup yang sulit berekses bukan hanya pada kaum papa, seperti budak Epiktetus (kira-kira 55-135 SM), namun juga mereka yang sedang digdaya di puncak kekuasaan. Salah satu Stois, Marcus Aurelius (121-180) adalah Kaisar Roma.

Senin, 19 Desember 2011

Norma-Norma Yang Dilanggar

PAUL RUSESABAGINA yang biasanya tenang berubah resah. Perangainya bak orang linglung diliputi kecemasan. Tangannya bergetar hebat, hingga ia kesusahan mengenakan dasi. Beberapa kali ia melipat-lipat dasinya supaya rapi, tapi tak berhasil. Mafhum, Rusesabagina baru saja menyaksikan ribuan mayat tergeletak di jalanan Rwanda. Mayat saudara sebangsanya sendiri. Ia menutupi wajah dengan kedua tangan dan mulai meratap. Oh Tuhan… begitu katanya pasrah.[1]
Paul Rusesabagina adalah manajer Sabena Hôtel des Mille Collines. Selama peristiwa genosida di Rwanda, peran Rusesabagina sangat berpengaruh. Kehadirannya dibutuhkan para pengungsi. Hotel des Mille Collines jadi tempat penampungan sekitar 1.268 Tutsi dan moderat Hutu yang diincar milisi Interahamwe.
Apa yang dilihat Rusesabagina juga dibenarkan oleh Colonel Quist. Sebagaimana dikutip J.L Holzgrefe dalam Humanitarian Intervention. Ethical, Legal and Political Dilemmas, terbitan Cambridge, ia mengakui begitu banyak tubuh-tubuh berserakan di jalan-jalan Kigali. Sebagai salah satu saksi mata, Quist menceritakan:[2]

Jumat, 18 November 2011

Cita-Cita Si Pendekar Wisata

Yossiadi Bambang Singgih pendiri Yoss Traditional Centre
Ia punya dedikasi besar terhadap budaya bangsa
Sosok nasionalis sekaligus pluralis
Berpandangan budayasentris

SYAHDAN PADA AGUSTUS 1958. Seorang anak kecil berusia empat tahun diajak eyangnya H. Nasucha ke Alun-Alun Kendal menyaksikan upacara peringatan 13 tahun kemerdekaan Indonesia. Ayahnya, M. Enohyudokusumo seorang militer tampil di acara itu mengenakan pakaian tentara lengkap, terlihat gagah duduk di atas kuda. Sambil merengek, ia ingin sekali menunggangi kuda tersebut, tapi ayah melarangnya. Ia diantar pulang ke rumah dan dibuatkan kuda debog oleh sang bapak.

Yossiadi Bambang Singgih, nama anak kecil itu. Lahir di Kendal 1954, bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda 28 Oktober. Masa kecil selama tujuh tahun ia lalui di tempat kelahiran, baru pada 1961 ia pindah ke Semarang. Kini anak kecil itu sudah berusia 56 tahun. Om Yossi, begitu ia akrab disapa. Wajahnya bulat, rambut pendek, kumisnya terbaur antara hitam dan putih, noda hitam tumbuh di sekitar pipi. Orangnya ramah dan supel.

Pria ini bekerja di Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang. Ia memakai topi model jaman kompeni, terbuat dari anyaman bambu, mengenakan kaos kerah warna biru saat saya menemuinya di Pelataran YTC, Sabtu 5 Juni 2010. YTC atau Yoss Traditional Center adalah lokasi pelestarian budaya, khususnya permainan tradisional. Kuda debog buatan si Ayah menginspirasi Yossi untuk menjadikannya trademark tempat itu.

Senin, 03 Oktober 2011

Oktober Melankoli

OKTOBER DATANG membawa kegetiran. Ia aku jumpai di tengah jalan yang sudah sepi pada dini hari, sekira pukul dua belas lewat lima belas. Saat berpapasan mukanya tertunduk lesu dan tatapan matanya terus melihat ke bawah tidak mau mendongak ke depan. Jalannya lunglai semacam orang putus asa gara-gara putus cinta. Aku menyapanya tapi hanya hening yang aku dapat. Oktober acuh seakan tidak pernah ada suara yang terdengar memanggilnya. Aku rasa ia memang sedang patah hati.

Beberapa hari sebelum malam ini, Oktober bercerita bahwa ia hendak mengungkapkan cinta pada seorang gadis istimewa. Namun agak takut, karena Oktober tahu, ia tidak sendiri dalam upaya merebut hati si gadis istimewa tersebut. Dan yang lebih miris lagi pesaingnya adalah pria yang rutin berinteraksi dengan si gadis. Yang barangkali di mata si gadis, pria itu memiliki nilai seratus. Sedangkan Oktober... jangankan nilai seratus, bahkan nilai nol saja tidak bisa ia dapat. Jelas ini bukan kesan yang baik.

Kamis, 22 September 2011

Dari Balik Jendela


WAKTU MENUNJUKAN tepat pukul 08.00 pagi saat alarm ponsel di atas meja berdering untuk ke… entahlah. Karena setiap ia berdering, tindakan pertama dan aku lakukan berulang-ulang ialah mengambil ponsel, memicingkan mata sambil mengamati layarnya dan dengan cermat aku pencet tombol stop. Maka alarm pun berhenti merengeh sementara aku masih terbuai dalam alam imajiku.

Perlu kau ketahui kawan bahwasanya bangun tidur pukul 08.00 bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Bahkan ia menjadi hal paling menggemaskan dan sekarang sedang coba aku singkirkan. Sebab dengan bangun kesiangan, kau telah memotong beberapa jam hak hidupmu sendiri. Otomatis kau kehilangan sejumlah momen penting. Padahal beberapa jam yang kau pangkas itu bisa jadi adalah waktu-waktu berharga.

Kamis, 25 Agustus 2011

Karena Subuh

KARENA SUBUH adalah pergantian. Transisi dari gelap menuju terang. Memulai sekaligus berniat mengakhiri. Didahului pada subuh, diajarkan cara menanam kebaikan membuang kefasikan.

Karena subuh adalah nyaman. Dengan pikiran lowong. Plong-menyegarkan. Ia waktu yang tenang buat mencari wawasan, kemudian merekamnya sebagai bekal untuk hidup pada siang yang bimbang.

Siang adalah kerendahan hati. Belajar berlaku tawaduk walau tinggi sudah ilmu dipunya. Tetap merunduk meski sedang berada di tempat atas. Menghormati tanpa merendahkan. Berempati dengan ketulusan. Berjalan di atas jembatan kesabaran.

Jumat, 12 Agustus 2011

Apa Mau Dikata


BOLEH DIBILANG AKU tidak bertindak apa-apa bila tak patut disebut terlambat. Sebab dengan mengajukan banyak alasan pun, cukup sulit mengatakan ini sebuah keterlambatan. Karena aku tidak pernah berpindah tempat, apalagi berbuat, tidak ada waktu yang bergerak, jadi akan lebih cocok jika kata yang disematkan adalah pasif. Walau aku tidak akan pernah bangga dengan label tersebut.

Ikhtisar kepasifan muncul akibat situasi faktual yang serba problematis bagiku. Sedangkan bagi beberapa kolega, keadaan ditafsirkan: semakin lama berdiam diri, semakin besar peluang untuk kehilangan. Atau dalam bahasa tragisnya, diambil orang.