Pages

Senin, 05 Februari 2018

Permenungan Sebuah Perjalanan


HAMPIR SATU BULAN ini, tiap minggu Januari pulang pergi dari Kota G ke Kota D. Sebagaimana yang sudah-sudah, perjalanan bagi Janu atau barangkali bagi khalayak umum senantiasa memberikan kesan. Termasuk kali ini. Ada sisi melankoli amat sentimental yang akhirnya mengajaknya masuk ke ruang permenungan mendalam dan mengantarkan Januari pada sebentuk sosok bernama tanya.

Ya, tanya. Tanya yang ternyata jumlahnya tidak hanya satu atau dua, tapi beranekarupa. Ia muncul menyembul berulang-ulang bak pramugari-pramugara kereta yang tak jenuh hilir mudik menjajakan penganan, selimut dan bantal. Kau tahu dalam ujud apa saja tanya itu? Boleh jadi ini sangat tidak penting buatmu.

"Aku ingin mengutarakannya saja agar tidak mengendap dan membusuk. Bentuk yang paling fundamental dari tanya yaitu mengapa," begitu ujar Januari.

Ya, tanya ialah mengapa, salah satunya.

"Mengapa aku harus menempuh perjalanan berhari-hari dari Kota G ke Kota D, bahkan musti menyelipkan waktu buat berkunjung ke kota lain?" tanya Janu.

"Baik, jawaban atas pertanyaan ini mudah, sudah barang tentu disebabkan oleh urusan kantor," Janu menjawab sendiri.

Lagi-lagi ia bertanya pada dirinya dan dijawabnya sendiri. Terus seperti itu.

"Tapi mengapa urusan kantor itu bisa ada dan mengapa urusan kantor membawaku sampai ke kota lain yang jaraknya berkilo-kilo meter dari Kota G bahkan Kota D?"

"Karena sebelumnya sudah ada proses yang mendahului dan urusan kantor membuka pintu untuk berkunjung ke kota lain. Begitu."

"Lalu pertanyaan lanjutannya, mengapa ada proses yang mendahului urusan kantor di Jakarta dan mengapa urusan kantor ini membuka pintu buat berkunjung ke kota lain dan aku masuk ke dalam pintu itu?"

Segala tanya itu kalau mau dikerucutkan menjadi:

"Mengapa kami harus bersentuhan dengan sebuah proses sebelum urusan di Kota G ini, mengapa musti aku yang berangkat ke Kota G dan mengapa aku harus bertemu dengan kamu di kota lain?"

Singkat cerita, ujung-ujungnya Januari berjumpa dengan tanya yang paling dasar, sebentuk mengapa yang abstrak, yang mana Janu tak mampu lagi menjawabnya.

"Mengapa, iya mengapa demikian?"

Pada titik ini, ketika tanya tak lagi mampu dijangkau dengan akal, Januari sangat dan semakin percaya dan meyakini, segalanya berpusat pada entitas yang transenden, yaitu Tuhan.

"Ya, ada campur tangan Tuhan," begitu tuturnya.

"Ia yang telah menentukan harus begini, musti begitu, harus kesana, musti kemari. Ia yang membawa kami bersentuhan dengan proses, Ia yang mengatur aku yang harus berangkat ke Kota G dan Ia pula yang menggariskan kita saling bertatapmuka," kata Januari.

"Atau mungkinkah doa sedang bekerja?" dalam hati Janu bertanya.

Sebab sebelumnya di sepertiga malam doa itu telah terpanjat, bahkan sesudahnya isyarat terus mencuat dan intuisi kian menguat.

"Aku tidak tahu apa-apa. Allah yang Maha Mengetahui. Aku hanya sedang berikhtiar atas apa yang telah Tuhan pertandakan. Kalau saat ini gagal, barangkali Ia menghendaki aku berupaya lebih keras lagi."

Kalau masih gagal?

Maka bertawakallah. Berserah dirilah kepadaNya. Dan, ikhlaslah.

Belakangan Ini

JANUARI BERKORESPONDENSI dengan Tuhannya, di bawah langit temaram, sepertiga malam. Hatinya tengah risau, pikirannya sedang kacau. Sebabnya? Hanya Januari yang boleh tahu. Yang pasti ia memohon kepada Tuhannya, agar semesta mengirimkan pertanda. Lalu?

"Entahlah," begitu kata Januari kepadaku.

"Aku berupaya menerjemahmen saja hal-hal yang tidak terjamah. Dimulai dari sebentuk rupa yang bersarang di ceruk bunga tidur dua hari beberturut-turut. Lantas keesokkan harinya ada kontak tak terduga bak seorang perempuan sedu sedan berkeluh kesah dengan kekasih yang sudah begitu dipercaya. Dan puncaknya adalah kemarin, kausa yang selama ini bikin centang perenang dipastikan telah hilang beterbangan," ujar Janu panjang lebar.

Seluruhnya berlangsung belakangan ini, sejak Januari memanjatkan doa tujuh hari lalu.

"Kau tahu maksud dari itu semua?" tanyaku.

"Hanya Allah yang tahu," Januari memungkasi dialog dini hari ini.


Minggu, 19 Januari 2014

Pak Rho

“Sebenarnya kami tidak butuh bantuan-bantuan semacam ini. Yang kami perlu, cukuplah kami bisa kembali diterima oleh masyarakat.”
LEBIH KURANG BEGITU reaksi seorang tua, 73 tahun, bernama Pak Rho, atas rencana bantuan pemeriksaan kesehatan yang ditawarkan dua lembaga negara di republik ini. Untuk orang seumurannya badan Pak Rho masih tampak tegap-segar meski rambutnya sudah beruban, mukanya kisut dan bintil-bintil hitam tumbuh di separoh pipinya. Pak Rho adalah salah satu dari lima orang bekas tahanan politik 1965 yang kemarin sore saya jumpai di sebuah kantor hukum di Yogya.
Tampang Pak Rho dingin dan serius tatkala mendengarkan uraian rencana bantuan kesehatan fisik/psikis itu. Kendati terlihat kurang antusias, Pak Rho tetap menyimak penjelasan seorang delegasi lembaga negara. Namun di balik wajah keriputnya, saya merasa semacam terdapat sesuatu sedang ia sembunyikan. Sesuatu yang bikin hatinya gundah gulana sehingga dia terlihat tegang.
Terlepas ada kemungkinan ekspresi tegang itu memang sudah bawaan lahir, tapi saya menengarai ketegangan yang muncul dari muka Pak Rho lantaran ketidaksetujuannya dengan konsep bantuan pemeriksaan kesehatan ini. Bisa dinilai dari pendapat-pendapat yang ia utarakan dan saya dapat memafhumi. Pasalnya, syarat-syarat yang musti dipenuhi dalam program ini amat banyak dan terkesan rumit. Semisal diperlukan Surat Pembebasan Dari Tahanan. Dokumen ini diterbitkan antara tahun 1970-1980-an. Tidak semua eks tapol masih memiliki. Belum lagi dibutuhkan pula pernyataan bermaterai dari dua orang saksi yang mengetahui bahwa Pak Rho beserta kolega pernah ditahan. Mungkin dalam hati Pak Rho bergumam, ini syarat merepotkan betul! Kenapa malah korban yang diminta aktif mengurus tetekbengek itu? Seharusnya negara yang giat memperbaiki namanya, juga nama rekan-rekan sejawatnya sesama korban 65.
Untuk kali ini saya sepakat dengan pemikiran Pak Rho. Kalau negara bertekad bulat dan serius untuk memberi pertolongan maka korban tidak perlu dibuat kewalahan mengurus ini-itu. Toh senyatanya bantuan-bantuan sejenis ini tidak terlalu diharapkan. Yang sangat dinanti-nanti hingga kini ialah, negara mau akui kesalahan masa lalu, menyingkap tabir kebenaran dan meminta maaf. Menukil Yap Thiam Hien, kasus Tapol G-30-S adalah pelanggaran HAM yang paling keji yang pernah dilakukan Indonesia terhadap bangsanya sendiri. Mungkin sepanjang sejarah Indonesia.

Sabtu, 20 Juli 2013

Pada Suatu Waktu Di Tempat Yang Eksotis

Buat Nik
Nik, tampaknya kau perlu seduh secangkir kopi susu sebelum baca tulisan ini. Jika sudah, kau pilihlah tempat paling tenang. Pasang posisi sesantai mungkin dengan bersandar di kursi, berbaring di kasur atau boleh juga menggelesot di atas lantai. Senyaman kamu. Dengarkan musik yang merdu supaya menimbulkan suasana syahdu. Nikmatilah barisan kata-kata yang nanti akan melantun sembari menyeruput hangatnya kopi susu.
Tulisan ini aku karang lantaran tempo hari kau mengeluh sedang dilanda kebosanan. Bahkan si bosan kelihatannya sudah memuncak. Iya tidak?