Pages

Sabtu, 20 Juli 2013

Pada Suatu Waktu Di Tempat Yang Eksotis

Buat Nik
Nik, tampaknya kau perlu seduh secangkir kopi susu sebelum baca tulisan ini. Jika sudah, kau pilihlah tempat paling tenang. Pasang posisi sesantai mungkin dengan bersandar di kursi, berbaring di kasur atau boleh juga menggelesot di atas lantai. Senyaman kamu. Dengarkan musik yang merdu supaya menimbulkan suasana syahdu. Nikmatilah barisan kata-kata yang nanti akan melantun sembari menyeruput hangatnya kopi susu.
Tulisan ini aku karang lantaran tempo hari kau mengeluh sedang dilanda kebosanan. Bahkan si bosan kelihatannya sudah memuncak. Iya tidak?
Pada mulanya aku tidak mengerti apa sebab. Namun kau bercerita pangkal masalahnya adalah ‘kau tak berjumpa dengan keharuan’. Keharuan. Mudah-mudahan aku tidak salah menangkap apa yang dimaksud dengan keharuan itu. Aku pernah bertemu muka dengannya. Tapi dasar pembawaan keharuan suka tak menentu, sejurus kemudian dia lenyap. Agak sukar untuk mendapatinya kembali kendati bukan perkara yang mustahil. Malahan belum lama, pada suatu waktu, aku beruntung bisa berjumpa lagi dengannya. Pada perjumpaan terakhir ini dia berkata kepadaku: seorang perempuan manis laksana gula serawak telah mengundangku kemari dan memintaku untuk menemuimu. Lantas ia berseloroh: ”Kehadiranku butuh pancingan bung!”
Jika benar persepsimu tentang keharuan sama dengan persepsiku, aku hendak ajak kau untuk menemui atau bersama-sama mendatangkan keharuan. Karena keharuan baru mau datang jika ada agitasi, aku tak janji agitasi yang aku pakai ini makbul. Aku juga tidak beri garansi –bahkan sampai pada akhir tulisan ini– agitasi bikinanku akan menyembuhkanmu dari kebosanan.
Tapi setidaknya aku dapat mengusahakan dan akan terus temani kau mencari keharuan sampai tuntas.
*
Keluh kesahmu tentang keharuan membuat ingatanku terlempar ke masa silam tatkala aku berjumpa dengan keharuan, di suatu tempat yang eksotis, hampir setahun yang lalu, sembilan September dua ribu dua belas. Pada Minggu sore nan cerah. Sewaktu matahari tidak terik menyengat. Selagi silir-semilir angin berdesir membisiki ketentraman.
Sambil menenteng botol air mineral 330 ml merk ‘prim-a’ –bonus pembelian karcis masuk– dan tas berisi kamera, aku beserta kamu berjalan menuju ke suatu tempat yang eksotis. Tempatnya tinggi. Karena lokasinya di bukit, maka jalan yang dilalui agak menanjak. Di kiri dan kanan ditumbuhi pepohonan yang besar. Beberapa meter kemudian terdapat bale bengong dan ayunan. Pelatarannya luas. Pohon-pohon berukuran sedang berjajar rapi. Asri. Sekali lalu mencecap pemandangan nan elok, kita terus berjalan hingga mendekati dua buah gapura yang di salah satu bagian atapnya berbentuk limas.
Satu langkah-dua langkah-tiga langkah... kita menaiki anak tangga. Langkah-langkah kecil yang barangkali ketika itu tak terpikirkan oleh kita bahwa kelak langkah kecil itu membawa kita pada sintesis yang lebih sakral. Aku lantas berpikir, saat pertama kali kita menjejakkan kaki dan melintasi gapura itu, sesungguhnya kita sedang memasuki gerbang persenyawaan. Barangkali. Hanya fantasi mengada-ada yang tidak dapat dipertanggunjawabkan. Hehe..
Setibanya di puncak –setelah melewati gerbang persenyawaan– padang rumput tipis berwarna kuning kecoklat-coklatan terbentang luas di depan mata. Di sekitar sabana itu, pelbagai bangunan candi dengan arsitektur nomor wahid seolah mencipta imajinasi kemegahan dan peradaban di istana ini pada abad delapan.
Sekonyong-konyong aku mencium damai!
Aroma damai yang barusan aku rasakan itu bukan karena faktor tempat ini belaka yang dulu bernama Abhayagiri Vihara (biara di bukit kedamaian), tapi juga karena kehadiran kamu Nik. Kehadiranmu laksana permaisuri yang menenangkan jiwa.
Sabana di tempat yang eksotis itu bagai panggung pagelaran yang mempertontonkan kita sebagai penampil tunggal. Kita, penampil yang jiwa-jiwanya telah bersenyawa, dalam keheningan dan ketenangan, lantas menari. Berlarian kesana-kemari. Bernyanyi sesuka hati. Berloncat-loncatan di bawah teduhnya pohon. Tergelak bersukaria. Sementara langit jadi penonton. Dia duduk di atas bebatuan candi sambil memotret. Menjepret. Mengabadikan setiap plot yang kita peragakan. Semoga dengan penuh keridoan.
Tatkala sedang hanyut bersama kamu, aku dan langit sempat menyaksikan roman mukamu amat sumringah ketika itu. Membikin suasana hati siapapun yang melihatmu terasa segar. Rupa-rupanya kau sedang bergiranghati. Begitupun aku. Sekalipun saat itu, hatiku belum merapat di hatimu. Tapi sungguh aku amat bergembira bisa berada di tempat yang eksotis bersama kamu. Menghadirkan pertunjukan yahud di hadapan alam dengan kamu –seorang perempuan yang nanti menjadi sosok hebat yang aku punyai– adalah sesuatu yang sangat mengesankan.
Sebagaimana sudah aku bilang di muka, aku berjumpa dengan keharuan di sini.
*
Pertunjukan diakhiri dengan tampilnya matahari dari balik gapura yang jadi gerbang persenyawaan tadi. Detik yang kita tunggu-tunggu. Momen ketika matahari terlihat begitu dekat bagai telur ceplok. Momen saat matahari tak lebih besar dari telapak tangan manusia. Momen ketika guratan semburat lembayung senja yang jadi latar belakang tampak bak lukisan menawan seorang maestro kelas dunia.
Aku dan barangkali kamu Nik, dibuat terpukau dengan akrobat yang disajikan oleh matahari. Adalah suatu kebanggaan bisa menonton maha karya agung ciptaan Tuhan yang tiada duanya ini. Bersama kamu Nik.
Sekali lagi aku berjumpa dengan keharuan di sini.
*
Kita berkemas. Meninggalkan sabana pagelaran lalu menghampiri musola. Bila kau ingat, seraya menanti waktu solat tiba kita menunggu sambil melungguh bersebelahan di kursi. Tak lama. Tak banyak pula yang kita obrolkan. Kita cuma merasakan terjangan angin malam dari atas bukit, memerhatikan hamparan langit yang mulai menggelap dan memandang bintang-bintang artifisial. Pernah pada suatu waktu kau ungkapkan kepadaku, kalau kau suka dengan momen ini. Dan aku lagi-lagi menemukan keharuan.
*
Nik, peristiwa di tempat yang eksotis sekira setahun lalu, yang lantas mengikat kita dalam persenyawaan bernama komitmen itu adalah salah satu peristiwa di mana aku berhasil berjumpa dengan keharuan. Aku terharu.
Momen itu sengaja aku manfaatkan sebagai alat agitasi untuk menemukan atau mendatangkan keharuan serupa buat kamu. Malahan supaya keharuan yang kau harapkan bersedia menampakkan diri, aku ‘sogok’ dia dengan boneka papertoys. Boneka ini adalah gambaran diri sewaktu kita berfoto di tempat yang eksotis itu. Mudah-mudahan dengan boneka papertoys, keharuan mau muncul.
Pendek kata aku tak tahu apakah agitasi yang aku lakukan lewat tulisan yang kalimat-kalimatnya sulit dipahami, plotnya berantakan dan temanya absurd serta boneka papertoys ini cukup manjur membuat keharuan muncul di hadapanmu Nik. Bila agitasi ini gagal aku tak bisa berkata apa-apa selain, aku akan selalu temani kau mencari keharuan. Sampai dapat. Kapanpun. Sampai tuntas.
Yogyakarta, 4 Juli 2013

3 komentar:

  1. Awesome work.Just wanted to drop a comment and say I am new to your blog and really like what I am reading.Thanks for the share

    BalasHapus
  2. very informative post for me as I am always looking for new content that can help me and my knowledge grow better.

    BalasHapus
  3. It is good to see posts that give truly quality information. Your tips are extremely valuable. Thanks a lot for writing this post.Thanks a lot for sharing. Keep blogging.

    BalasHapus