Pages

Senin, 28 Juni 2010

Cerita Perempuan

Menemukan kutipan, pada sebuah lektur. "Seperti sebuah buku, masa lalu adalah halaman terdepan dari masa kini dan rencana untuk masa depan." Ada benarnya. Saya telah membuka halaman terdepan itu, mencoba berkontemplasi, mencari dan menghapus coretan salah dimasa lalu. Masa lalu tak pernah benar-benar berlalu, ia bisa hadir kapan saja memainkan perannya sebagai guru atau menggoreskan kesalahan lagi dimasa kini.

Malaikat, afinitas itu sering saya umbar, ketika saya terjaga dalam lamunan.
Hiperbolik memang, tapi itu jujur dan setelah ini kita akan melalui jalan kata dramatis. Bagi seorang pecundang, ia perempuan telampau sempurna. Pecundang karena kesalahan besar, tak terampuni dan sekarang coba memperbaiki.

Otak ini bekerja lebih keras dari biasanya, begitu tertera di novel 5 cm. Berpikir arah tepat yang harus ditempuh. Empat penjuru mata angin berkecamuk, menyombongkan jalan paling benar. Melawan takut melilit kaki, melangkah maju, hingga saya berhasil menemukan haluan yang mesti saya tuju.

Kisah lalu berulang lagi. Berawal ketika langit mempertemukan dua manusia, saya dan sang perempuan. Telah lama dipisahkan waktu, meski tak pernah ada ikrar menyatukan sebelumnya. Berproses tanpa diatur, tiada yang mengatur, saya percaya hanya Tuhan. Pintu terburai, ruang hati memuai. Selama ini jauh dari pikiran ruang itu berpenghuni, tiba-tiba khayalan saya, ia akan kekal disana.

Perlahan mulai membangun tekstur perasaan yang dulu pernah memancang. Lewat sebuah buku dan alat pengirim pesan, sebagai pondasi awal. Menciptakan berbagai resolusi, memimpikan tentang intensi dimasa depan.
*27 Februari 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar