Pages

Minggu, 03 Oktober 2010

Mimpi


“Hei mimpi, apa kabar? Lama kita tak bersua. Maaf aku melalaikanmu. Peristiwa lalu telah mengembalikan ingatan serta kesadaran, bila aku masih dan akan terus memilikimu. Konon kau terwujud dari pergulatan ide dan naluri. Aku sering meletakkannya pada hierarki falsafah. Mimpi lebih dari apapun, ia pembebas, juru selamat dalam keboyakan diri.

Pernah suatu kali aku bertualang untuk sebuah ambisi. Ya, upaya awal sangat mulus. Hingga tanpa duga sangka, secuil batu berhasil menjatuhkan diriku. Aku terjerembab, luka lecet mengembang di kaki. Darah mengucur, perih. Tak ada bekal kubawa, apalagi obat-obatan. Saat itu untuk kali pertama mimpi datang, menyerahkan penawar paling mujarab berlabel “pemicu” dan berkat obat itu, kaki dapat aku ayunkan lagi. Ini pangkal mula aku berkarib dengan mimpi.

 Walau terpincang-pincang aku tetapkan untuk melangkah. Ingin segera aku mencapai tujuan, bermodal semangat. Dengan semangat berkobar itu aku mesti terperosok, di lubang yang cukup dalam. Aku tak pernah tahu ada lubang menganga. Kesialan bertubi pikirku. Tapi seketika itu mimpi hadir jadi pahlawan. Ia mengulurkan tangan, dan mengangkat aku keluar.

Pengelanaan terasa tiada ujung. Aku jatuh, bangun, terjelungub, berdiri dan terus seperti itu. Berlangsung ajek, menjenuhkan. Aku putuskan berhenti mengejar ambisi. Gairahku mati, atau seorang teman menyebutnya degradasi motivasi. “Ya, aku memilih pulang dan menyerah.”

Perjalanan kembali aku tak melalui jalur yang sama. Karena memang aku sudah lupa kemana arah balik. Tiada petunjuk, kian tersesat. Sekarang aku tiba di tepi jurang. Hati-hati melangkah, konsentrasi hilang aku terjungkal, nyawa meregang. Dan celaka, tanah tempatku berpijak merekah. Keseimbanganku goyah. Akhirnya, bergulinglah aku meluncur deras ke bawah. Terantuk akar yang menjalar, tersampuk tanaman liar, terhantam bongkahan-bongkahan batu tajam, tanpa ada satu pun yang berhasil aku sangkut untuk tempat bergelayut. “Aih, sakitnya.” Beruntung nasib baik masih berpihak padaku.

Kini aku berada sendiri tanpa teman di dasar tebing. Tak tahu apa yang akan diperbuat. Konklusiku untuk pulang ternyata salah. Penyesalan jadi hal paling klise yang mesti aku utarakan. Termangu tiada guna, merenung menambah daya, berkontemplasi sebagai introspeksi. Ambisiku telah aku kandaskan sendiri. Rupanya aku sudah tinggalkan sosok paling berjasa, mimpi.

Seperti guratan cahaya, mimpi lagi-lagi hadir menerangi jiwa absurditas. Tersasar aku abai terhadapmu. Dan aku bangkit, melawan degradasi. “ah, hebat betul kau mimpi. Hingga aku harus mengejarmu lagi, berlagak penting pula kau nanti.”

Tapi kau memang agung mimpi. Semua orang ingin mencarimu. Kau sudah jadi proyeksi sejak masih bocah. Ingatkah kau mimpi, manusia sudah ditanya tentang cita-cita sedari dini, dan beragam jawabnya. Mungkin sebelum ditanya atau setidaknya semenjak pertanyaan terlontar mereka mulai berani bermimpi.

Kian dewasa, kau semakin diburu. Lama aku akrab denganmu dan aku tak percaya kau terpusat pada satu tujuan. Bagiku, dimana berada mimpi selalu ada. Tak peduli tempat dan masa. Kala aku di rumah aku memiliki mimpi, saat mencari ilmu, waktu aku berkarya mimpi senantiasa tampak. Bahkan ketika tidur pun kita bermimpi.

Tak ada yang tidak mungkin menggapaimu berbarengan. Dengan doa, usaha, "juga karena kau mimpi, aku bisa!" Mimpi, kau anugerah Tuhan pemantik intuisi, imajinasi di bumi tanpa batas. Tak harus kenal posisi, seyogyanya manusia adalah pemimpi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar