Pages

Selasa, 15 Februari 2011

Tentang Jurnalis Keadilan


SEPEDA ONTHEL merk Humber itu berhenti di depan warung majalah berlabel ‘Lamhaba’. Terengah-engah pemilik onthel melangkah memasuki toko. Sang penjaga nampak sedang sibuk meladeni seorang pembeli. Saya si pemilik tersebut, megap-megap minta tolong diambilkan satu eksemplar Koran Republika. Penjual melayani hangat.

Tadi siang menurut kolega saya, sedang dibuka lowongan reporter dan iklannya tercantum di Koran Republika, yang punya gawai buka lapangan kerja. Lembar per lembar saya buka, belum ketemu. Hingga saya jumpai terpampang besar di sudut kanan bawah halaman empat, –Edisi Senin 10 Januari 2011– tertulis huruf kapital “KESEMPATAN BERKARIER”.

Satu persatu saya bacai persyaratan yang diajukan. Keseluruhan ada 14 strip. Syarat terakhir bikin saya belingsatan, Menulis essay sepanjang 2 (dua) ribu karakter (maksimum) yang bertemakan, ‘alasan ingin menjadi jurnalis’. Apa saja alasan yang bisa dituangkan dalam 2000 karakter, bila 200 karakter, bahkan satu kata saja sudah cukup mewakili wujud alasan.

Baik, lantaran suatu ketentuan, bakal saya coba deskripsikan. Saya mulai alasan ini dari dua tahun lalu, pada pertengahan 2008. Semoga tidak terlampau jauh.

Sudah jadi kebiasaan tiap tahun ajaran berganti, sejumlah organisasi mengadakan open recruitment anggota baru, termasuk Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Keadilan. Pers Mahasiswa yang bermarkas di Fakultas Hukum UII.

Ketika itu saya sedang menongkrongi standnya. Kecanggungan bukan jadi kendala. Kebetulan saya berkarib dengan beberapa pengurusnya. Seorang kawan bertubuh besar, berkulit putih dan berkacamata kanan minus 2, kiri minus 1,75 menawari saya bergabung jadi anggota Keadilan. Dia adalah pimpinan pengkaderan lembaga itu. Panggilannya sama-sama Yogie. Cuma beda nama belakang. Yogie lebih populer disapa Bajuri. Ya, Yogie Bajuri. Orang Jawa menyebutnya nama paraban.

Bimbang dibarengi bermacam pertimbangan mengiang-ngiang di kepala. Apalagi status angkatan 2006 saya, telah mendekati masa-masa akhir studi. Banyak kegiatan akademis yang mesti ditempuh. Kuliah Kerja Nyata (KKN) jadi agenda paling dekat, lalu disusul skripsi. Pertentangan batin terus bergolak, berpikir berulang-ulang memutuskan iya atau tidak.

Hanya butuh hitungan menit, lantaran kultur canda serta keakraban sejak pertama masuk kuliah, seketika nama saya telah tersalin dibuku daftar anggota baru LPM Keadilan. Bajuri menulisnya tanpa menunggu jawaban dan tanpa konsesi. Tapi saya memang tidak melawan, maka pilihan telah dijatuhkan.

Seingat saya sore itu cuaca mendung, waktu saya mendatangi Kantor LPM Keadilan guna menjalani tes wawancara. Sudah terlanjur tercatat, terjang saja! Penguji saya bernama Rully, dia angkatan 2004 bertubuh kerempeng asal Bandung. Tak pernah kenal sebelumnya, bikin linglung dan canggung.

Di bangku panjang berkaki enam, berbahan jati, saya menunggu. Menanti panggilan interviu dengan si kakak kelas yang saya kenal akrab kemudian. Dag-dig-dug, apa pula mesti saya jawab cecaran pertanyaan nanti. Belum lagi saya tak punya barengan teman satu angkatan yang bisa diajak berbincang, bikin tambah salah tingkah saja.

Sebaliknya, tak dipungkiri kebanyakan pendaftar adalah angkatan 2007 dan 2008, seluruhnya lebih muda dari saya. Cukup satu orang saya kenal, itupun belum jua dekat. Tak tahu saya, ada tidak kawan seangkatan, jangan-jangan bangkotan sendiri. Sempat perasaan minder membiak.

Nama saya diundang, mencoba melangkah tanpa beban. Walau tetap terhuyung-huyung tiada ketetapan hati. Apa saja pertanyaannya? Apa mesti saya katakan? Berapa jumlah soalnya? Bagaimana jika jawabannya nihil? Jujur saya tidak siap! Sungguh saya masih minus pengetahuan. Keraguan mulai menyalak.

Rully bersiap diri, mengatur kertas-kertas pertanyaannya. Saya tidak begitu ingat apa saja yang ia tanyakan. Cuma satu masih membekas, ini pertanyaan umum, saya kira dimana pun selalu sama tiap akan masuk koloni baru. “Apa alasan anda masuk komunitas tersebut?”

Begini, saya bisa beri dua alasan. Pertama, ingin mematangkan kemampuan berorganisasi. Kedua, saya berminat mengenal jurnalistik. Tanggapan biasa, terkesan latah. Jawaban nan sering dimiliki banyak orang, jadi andalan tiap kali interviu.
Saya paham ini respon setengah spontan atas reaksi yang dilontarkan si kakak kelas.

Alasan tanpa penjelasan. Bisa dikata cukuplah melegakan penguji. Tanpa subtansi. Berlaku sepanjang tanya jawab saja, setelah itu hilang tak berbekas. Karena sejujurnya saya tak punya alasan pasti. Absurd! Saya linglung kenapa bergabung di sini.

Dapat saya uraikan eksplanasi dan kenikmatan saya, nanti dibagian lain tulisan ini.

Dua tahun berlalu, enam bulan saya menjalani masa kaderisasi, lalu dilantik jadi pengurus. Mula-mula ditempatkan sebagai staf pada bidang redaksi. Usai musyawarah anggota, forum tertinggi lembaga, tim formatur berkukuh memposisikan saya di keredaksian. Perbedaannya, kali ini menjabat Redaktur Pelaksana. Di bawah Pimpinan Redaksi langsung.

Apa pula tugas Redaktur Pelaksana. Sudah saya wanti-wanti supaya cukup diletakkan di bagian staf. Ternyata tim punya alasan lain, lantaran dorongan saya dulu ingin menekuni organisasi, dipercayalah saya berperan sebagai Redaktur. Sejak akhir 2009 sampai sekarang.

Permulaan nan kaku. Perlahan-lahan menyesuaikan diri. Agenda mendesak yaitu menyusun rancangan kerja keredaksian satu tahun ke depan. Bersama Sang Pimpinan Redaksi yang dua tahun lebih belia. Ya, di Keadilan saya banyak bergaul dengan orang-orang muda.

Pendahuluan, saya bergiat di buletin bulanan Keadilan. Terbitan yang edar lingkup kampus UII. Kerja keredaksian pertama seorang Redaktur Pelaksana. Liputan, wawancara, kemudian menulis, menuangkan dalam berita. Merangkap editor, bahkan mengatur distribusi terbitan hingga menyambi jadi distributor.

Lucunya, berita pertama saya justru tidak terbit di buletin ini, tapi pada Majalah Keadilan periode kepengurusan 2009. Tulisan sewaktu kader yang semestinya terbit di luar majalah, terpaksa diikutkan. Topiknya kasus pasir besi serta cerita sosok petani cabe Kulonprogo. Tulisan prematur tidak berimbang, metodenya pun tidak obyektif. Saya memasukkan opini dalam sebuah berita. Akan lebih baik bila dihindari bukan.

Terjebak pada opini terus berlanjut dibulan-bulan berikutnya. Emosi lebih menggebu-gebu ketimbang mengutamakan obyektifitas metode. Saya berpikir, alangkah tidak adilnya bila dalam berita hanya menyudutkan satu pihak. Sedangkan pihak lain tidak diberi ruang bicara. Bisa jadi sumber yang disediakan kesempatan salah bersuara, sedang sumber lain malah benar, atau jurnalis tidak mencari pembenaran. Melalui filosofis berita saya belajar berlaku adil terhadap siapa saja, tidak memihak kecuali kebenaran. Bill kovach menekankan pada independensi.

Dasar wartawan amatiran. Minus pengalaman. Wawancara jadi pekerjaan paling dihindari kala itu, masih tersipu-sipu. Pun begitu tetap saja ketiban jatah interviu melulu. Kesibukan ini bikin saya kian terbiasa dengan pekerjaan.

Sedapat mungkin saya sediakan waktu luang buat menulis. Porsi khusus buat menumpahkan ide. Bukan maksud mengabaikan kerjaan lain tentunya. Pada mulanya saya lebih suka menulis ketimbang menemui seorang narasumber. Saya bukan orang yang pandai bicara, itu alasan definitif saya. Tentu ironis bila skema kerjanya egoistis. Menulis dituntut riset supaya akurat, salah satunya wawancara. Semampunya saya akan mengharmonisasi keduanya. Berusaha ke arah perbaikan. Toh, belajar tidak ada batasan.

Dalam rangka pembuatan Majalah Keadilan 2010, kami menyelenggarakan sebuah pelatihan tingkat lanjut bagi seluruh pengurus LPM Keadilan. Prinsipnya pendidikan menulis, pengkhususannya materi feature, tanpa meninggalkan kerja kejurnalistikan lain. Kursus feature telah merubah kontruksi penulisan saya. Saya mulai menggemari deskripsi. Menulis secara bebas menggunakan indra, dengan tetap berpijak pada aturan main.

Ilmu yang diperoleh semasa pendidikan, mulai saya terapkan pada terbitan Keadilan. Menyajikan berita dengan model penulisan deskripsi. Orang bilang gaya sastrawi atau apalah mau menyebutan. Saya terinsipirasi pola bercerita seorang Pramoedya Ananta Toer. Jurnalisme menitikberatkan pada estetika tanpa mengesampingkan faedah.

Masa reportase majalah dimulai sekitar dua bulan setelah pelatihan. Kebetulan ide tema mengenai sosok yang saya usulkan saat rapat redaksi disetujui. Konsekuensinya saya diminta pegang rubrik tokoh. Selama bertugas saya dibantu reporter Keadilan lain.

Kewajiban kami yaitu peliputan ke Ungaran, Jawa Tengah. Mewartakan seorang tokoh pelestari permainan tradisional anak, Yossiadi Bambang Singgih. Om Yossi, begitu ia disapa, orang yang berdedikasi tinggi terhadap kebudayaan bangsa. Ia begitu skeptis pemerintah telah berbuat sesuatu saat kesenian Indonesia dicuri negara lain. Om Yossi sosok nasionalis sekaligus pluralis dan punya pandangan budayasentris.

Sejumlah warga desa setempat kami dekati, termasuk istri dan rekan kerja Om Yossi kami hubungi lewat telepon, supaya ada penilaian lain figur Om Yossi. Objektifitas, ya lagi-lagi netralitas. Masing-masing individu terkadang punya kesan berbeda terhadap satu sosok. Jurnalisme mempertautkan saya pada beragam partikularitas manusia.

Dari Jawa Tengah, kami beravontur ke Jawa Barat. Berkunjung ke Suku Baduy, sekitar 172 km sebelah barat Jakarta dan 65 km selatan ibu kota Serang. Sisi mempesona bangsa Indonesia. Lanskap nan indah alami, Suku Baduy jadi koloni yang masih mempertahankan hukum adat, tidak tergerus arus modernisasi. Tiada bahan kimia, tiada peralatan elektronik. Sungguh etiket benar-benar dijaga. Sebelumnya tak pernah saya ketahui seluk beluk kebiasaan Orang Baduy, maka Jurnalisme mengenalkan saya pada tradisi etnis lain.

Membelok haluan ke Jawa Timur, kami berpetulang di tanah Pacitan. Pengalaman menantang nyali. Isu yang diangkat amat sensitif, bersinggungan dengan penguasa. Salah sedikit berakibat fatal. Saya mengalami sendiri, berbelit-belitnya birokrasi pemerintahan. Mulai seorang polisi yang tidak mau terbuka waktu diwawancarai sampai kepala dinas yang menolak diinterviu, walau barang sepuluh menit. Ia menggurui dan bersikukuh mesti melampirkan surat keterangan dari birokrat di atasnya.

Di Pacitan kami berpencar ke sejumlah titik buat menemui sumber, tim lain berkisah saat interviu diawasi security kantor, lebih-lebih lagi wawancara tanpa alat perekam. Si narasumber tidak berkenan suaranya dicetak. Jurnalisme membawa saya menguak intrik negeri ini. Jurnalis lebih dulu tahu sebelum publik mengetahuinya. Ya, meski masih kecil lingkupnya.

Jurnalisme telah membuka pintu wawasan saya. Semenjak jadi jurnalis kampus saya mulai peduli pada wacana. Pergaulan dengan kroni di Keadilan yang gemar membaca menuntun saya jadi sosok doyan buku juga.

Pelan-pelan saya dituntut berakal kritis. Mula-mula dari kampus, melebar regional Yogya hingga tataran nasional. Kini saya masih belajar menjadi kritis.
Doktrin jurnalisme transformative sering didengung-dengungkan, berbekal iktikad tersebut jurnalis keadilan dituntut revolusioner, sekurang-kurangnya mendinamisasi paradigma berpikir masyarakat.

Beruntung sekali saya sempat memperoleh kesempatan berbincang dengan petani korban kriminalisasi, lalu menyusunnya ke dalam sebuah laporan. Tulisan itu mengabarkan ketidakberdayaan kaum kecil dihadapan penguasa hukum.

Saya orang hukum, belajar serta menyenangi hukum tapi saya tidak terlalu punya kecenderungan minat beracara di Pengadilan, walau sifatnya tidak permanen. Bukankah bergelut dengan hukum disarankan pintar omong? Seperti sudah saya nyatakan, bahwasannya saya bukan orator ulung beretorika. Bahasa verbal saya buruk.

Bagaimanapun ilmu yang saya peroleh selama empat tahun sekolah di Fakultas Hukum mampu difungsikan, dengan membonceng jurnalisme. Memang untuk saat ini bukan sebagai hakim ataupun jaksa. Bukan notaris, bukan pula legal consultan perusahaan. Saya mendamba jadi pengacara. Ya, advokat bagi korban ketidakadilan, membela dengan pena, melawan lewat tulisan untuk kemanusiaan.

Pramoedya pernah berkata, menulis adalah bekerja untuk keabadian. Kalau saya boleh tambahkan, bekerja Jurnalisme berarti bergiat menggugat ketidakadilan. Apalagi menyaksikan karut marut penegakan hukum Indonesia, belum sampai ke arah resparasi malah bobrok dititik nol.

Penegakan hukum sekedar mencari kebenaran formal, mengabaikan kebenaran subtansial. Belum kasus-kasus lama semuanya terbongkar, kian bertambah nanti korban diskriminasi. Jarang terdengar kabar baik. Goenawan Mohammad sedikit menyelenting lewat Twitter-nya, “Pesimis: Indonesia kabarnya tidak ada yang bagus. Optimis: Paling tidak negeri ini masih ada kabarnya.” Ah, ironis! Wartawan punya tanggung jawab sosial, meletakkan loyalitasnya pada kepentingan masyarakat.

Kolega saya pernah menyampaikan, “Jurnalis pencaharian yang masih idealis.” Saya beranggapan tidak banyak orang bermimpi jadi wartawan. Termasuk saya, tidak ada cita-cita untuk beraktifitas sebagai jurnalis kampus meskipun sejak lama sebenarnya saya sudah suka menulis, ya walau tidak berbobot. Cuma curhatan.

Desas-desusnya honor wartawan kecil. Ah, mungkin sebab itu minat buat jadi pewarta tidak membludak seperti pendaftar CPNS. Tak tahu juga, saya bicara berdasar asumsi bukan fakta atau data.

Jurnalis adalah mimpi dadakan. Sementara jurnalisme timbul tatkala epidemi keboyakan menjalar. Luntang-lantung tanpa pegangan, jurnalisme hadir menampung jiwa yang terapung-apung.

Jurnalisme bukan cuma ilmu. Jurnalisme menyulut afeksi persahabatan, menggiring pada pengetahuan, mendidik sosialisasi, menyampaikan amanah serta mengajarkan keadilan. Jurnalisme tanpa sungkan-sungkan membawa saya berkunjung menemui beragam realitas kehidupan.

Kalau diibaratkan adab, saya bagai berutang budi kepada jurnalisme. Hukum dan jurnalisme sama-sama ilmu, akan saya gandeng keduanya berbarengan.

Baik, naskah ini selesai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar