Pages

Sabtu, 19 Maret 2011

Episode Pertama: Realistis

BELAKANGAN PENGGALAN sembilan huruf tercecer-cecer tak karuan ini sering terlafaskan oleh mulut sendiri, berdenging-denging di telinga dari mulut orang lain ataupun tersaji dalam ujud tulisan, seperti yang akan aku kerjakan sekarang.

Sebelum aku garap, perlu aku sampaikan, bahwasannya sembilan huruf ini bahkan sudah belasan kali tercetak. Tercetak lalu diserahkan kepada orang-orang yang sedang linglung-murung, jiwanya terapung-apung, nasibnya terkatung-katung karena tekanan demi tekanan tak kunjung rampung. Nanti setelah berputar-putar, sembilan huruf akan membentuk satu kata utuh, yaitu realistis.

Realistis adalah prinsip yang harus tercapai, lantaran pembebanan amanat tak bertanggungjawab, soal perbedaan cita-cita, kelainan visi dan perubahan orientasi sudah terlanjur terjadi. Semua menjurus pada perlawanan dan pemaksaan. Pemaksaan terhadap hal yang tidak mungkin tapi mesti direpresentasikan. Memaksakan rasionalitas.

Pokoknya aku akan bercerita tentang suatu ihwal, yakni sebuah kondisi dimana keadaannya serba tidak menguntungkan, idealnya dihentikan. Yang ideal ini yang dinamakan realistis. Meski yang realistis juga bikin mumet.

Pertama, saudara tua yang pongah itu telah semena-menanya membebankan tugas pada, Tn. N. Barusan kerjaan diserahkan, saudara tua itu malah minggat. Minggat barangkali terlalu sarkastik, baik aku ganti menjadi ‘menggali ilmu di negeri lain’. Menggali ilmu dengan meninggalkan konsep yang belum jelas juntrungannya, meletakkan bakul berisi batu besar dipundak teman-temannya. Saking beratnya, bikin penyungginya ambruk dan terpelanting hingga terbanting-banting tak beraturan.

Sekarang Tn. N. dan kroni-kroninya belingsatan. Skema yang ‘tersusun rapi’ itu acak-adut. Kalau boleh dinilai dari airmuka masing-masing, sepertinya mereka pasang mimik ragu. Herannya pun sudah ragu begitu, tetap saja mau dilakukan, cuma buat saudara tua yang bermil-mil jauhnya.

Tn. N. dinasehati supaya berpikir realistis, tapi nampak sikapnya masih skeptis. Sanksi untuk menjadi realistis. Sebenarnya kuncinya terus terang dan ambil ketegasan. Jujur mengatakan bahwa skema itu tidak realistis, tegas menyatakan “Aku harus realistis!” Aku tidak menyalahkan Tn. N karena ia memang sedang mencari jadi dirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar